D'Angelo Russell Tinggalkan NBA, Gabung Shanghai Sharks: Langkah Strategis atau Akhir Karier?
Baca dalam 60 detik
- D'Angelo Russell resmi bergabung dengan Shanghai Sharks di CBA setelah dilepas Memphis Grizzlies.
- Langkah ini menandai perpindahan pemain NBA ke liga Tiongkok yang semakin kompetitif.
- Keputusan Russell bisa memengaruhi persepsi pemain NBA tentang peluang di Asia, termasuk Indonesia.

D'Angelo Russell, mantan pemain NBA yang pernah menjadi All-Star, telah menandatangani kontrak dengan Shanghai Sharks di Chinese Basketball Association (CBA). Kepindahan ini terjadi hanya beberapa hari setelah ia dilepas oleh Memphis Grizzlies, menandai babak baru dalam karier pemain berusia 30 tahun tersebut.
Russell, yang dipilih sebagai pick kedua oleh Los Angeles Lakers pada 2015, sempat memperkuat beberapa tim NBA seperti Brooklyn Nets, Golden State Warriors, Minnesota Timberwolves, dan Dallas Mavericks. Musim lalu bersama Mavericks, ia tampil dalam 26 pertandingan dengan rata-rata 10,2 poin, 4 asisten, dan 2,3 rebound per game. Namun, setelah terlibat dalam trade besar yang melibatkan enam tim dan 11 pemain, ia berpindah ke Washington Wizards, lalu ke Memphis Grizzlies, sebelum akhirnya dilepas.
Shanghai Sharks, juara bertahan CBA, merupakan tim yang pernah dibela Yao Ming sebelum menjadi bintang NBA. Klub ini meraih gelar pertama dalam 25 tahun pada musim lalu. Kehadiran Russell diharapkan dapat memperkuat dominasi mereka di liga Tiongkok dan meningkatkan daya tarik CBA di kancah internasional.
Keputusan Russell untuk hijrah ke CBA bisa dilihat sebagai langkah strategis untuk memperpanjang karier profesionalnya. Meskipun masih berusia 30 tahun, ia menghadapi persaingan ketat di NBA dan minimnya tawaran kontrak yang menguntungkan. Liga Tiongkok menawarkan kesempatan bermain dengan menit lebih banyak dan eksposur di pasar Asia yang besar.
"Ini adalah peluang baru bagi Russell untuk menunjukkan kemampuannya dan membantu Shanghai Sharks mempertahankan gelar," ujar seorang analis basket yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, kepindahan Russell ke CBA dapat menjadi sinyal bahwa liga Asia semakin menarik bagi pemain NBA. Hal ini bisa memicu diskusi tentang daya saing liga basket domestik dan peluang pemain Indonesia untuk menimba ilmu di kompetisi regional. Selain itu, kerja sama antara klub-klub Asia dan NBA semakin terbuka, seperti yang terlihat dari beberapa pemain yang memilih jalur serupa.
Ke depan, apakah langkah Russell ini akan diikuti oleh pemain NBA lainnya? Dan bagaimana dampaknya terhadap dinamika liga basket di Asia, termasuk Indonesia? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: peta kekuatan basket global terus berubah.



