Persija Somasi Netizen soal Tudingan Aliran Dana Piutang Persib ke PT LIB
Baca dalam 60 detik
- Manajemen Persija Jakarta melayangkan somasi terbuka kepada pemilik akun Instagram @murizkky karena menuding klub menerima aliran dana dari piutang Persib ke PT LIB.
- Somasi menuntut klarifikasi dan bukti dalam 24 jam, dengan ancaman langkah hukum jika tidak dipenuhi.
- Kasus ini menyoroti rentannya klub sepak bola nasional terhadap informasi tak terverifikasi di media sosial yang dapat merusak reputasi.

Persija Jakarta resmi melayangkan somasi terbuka kepada pemilik akun Instagram @murizkky pada Selasa (30/9/2026) terkait unggahan yang menuduh klub menerima aliran dana dari piutang Persib Bandung kepada PT Liga Indonesia Baru (LIB). Langkah ini diambil setelah manajemen menilai narasi tersebut tidak berdasar dan berpotensi mencemarkan nama baik.
Dalam somasi yang ditandatangani PT Persija Jaya Jakarta, klub menegaskan tidak pernah menerima dokumen atau bukti apa pun yang mengaitkan mereka dengan transaksi keuangan tersebut. Mereka meminta pemilik akun menjelaskan sumber informasi yang digunakan, serta menunjukkan bukti aliran dana yang dituduhkan. Jika tidak terbukti, unggahan harus dihapus dan permohonan maaf disampaikan secara terbuka dengan jangkauan setara.
Kasus ini bukan sekadar perselisihan antara klub dan netizen. Tudingan yang beredar menyentuh isu sensitif tentang tata kelola keuangan liga, terutama terkait piutang Persib kepada PT LIB. Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa PT LIB melalui Ferry Paulus meminjam dana kepada Persib, lalu dana itu dialirkan ke Persija untuk belanja pemain. Narasi semacam ini mudah menyebar di media sosial karena melibatkan nama besar dan angka yang tidak diverifikasi.
"Kami menghargai kebebasan setiap pihak untuk menyampaikan informasi dan pendapat, namun penyampaian informasi yang menyangkut transaksi keuangan, badan usaha, dan nama pihak tertentu harus didasarkan pada fakta dan sumber yang jelas," tulis manajemen Persija dalam somasi.
Langkah somasi terbuka ini menunjukkan bahwa klub sepak bola Indonesia semakin serius menangani dampak informasi digital. Jika sebelumnya klub cenderung mengabaikan gosip di media sosial, kini mereka mulai menggunakan instrumen hukum untuk melindungi reputasi. Persija menegaskan somasi ini adalah bentuk iktikad baik, memberi kesempatan kepada pihak yang bersangkutan untuk mengklarifikasi sebelum jalur hukum ditempuh.
Bagi publik sepak bola nasional, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa informasi tentang transfer dana, belanja pemain, dan hubungan antarklub sering kali beredar tanpa verifikasi. Penggemar dan media sosial perlu lebih kritis, sementara klub dan operator liga dituntut transparan soal arus keuangan. Ketegangan antara Persija, Persib, dan PT LIB berpotensi memengaruhi stabilitas kompetisi jika tidak dikelola dengan baik.
Ke depan, apakah somasi ini akan berujung pada klarifikasi publik atau justru eskalasi ke ranah hukum? Yang jelas, kasus ini menguji sejauh mana klub dan liga mampu menjaga integritas di tengah derasnya arus informasi digital.



