The Witcher 3 Remastered Puncaki Metacritic 2026, Tapi Bisakah Bertahan dari GTA 6?
Baca dalam 60 detik
- The Witcher 3: Wild Hunt Remastered menempati peringkat teratas Metacritic 2026 dengan skor 94, meski baru diulas delapan kritikus PC.
- Peningkatan visual, sistem pertarungan, dan pohon keterampilan membuat game lawas ini terasa relevan, namun banyak media menahan ulasan penuh karena sifatnya yang gratis bagi pemilik versi lama.
- Dominasi remaster di daftar game terbaik tahun ini memicu pertanyaan soal inovasi industri, terlebih dengan bayang-bayang Grand Theft Auto 6 dan remake Ocarina of Time.

Di tengah derasnya rilis game baru, sebuah judul berusia 11 tahun justru menempati posisi teratas daftar game dengan ulasan terbaik sepanjang 2026 versi Metacritic. The Witcher 3: Wild Hunt โ Remastered mencatat Metascore 94, mengungguli sejumlah rilisan anyar yang baru beberapa bulan hadir. Pencapaian ini sontak memantik diskusi: apakah ini bukti kualitas abadi sang klasik, atau justru cermin minimnya inovasi di industri game tahun ini?
Angka 94 itu memang mengesankan, tetapi perlu dicermati bahwa skor tersebut baru dihimpun dari delapan ulasan, semuanya untuk versi PC. Platform lain seperti PlayStation 5, Xbox Series X, dan Nintendo Switch 2 belum mengumpulkan cukup ulasan untuk mendapatkan Metascore resmi, meski ulasan yang ada berada di kisaran 9โ10. Keterbatasan sampel ini membuat klaim "game terbaik tahun ini" masih menyisakan ruang debat.
Yang membuat situasi ini kian unik adalah cara CD Projekt Red merilis ulang game tersebut. Remastered bukanlah produk yang dijual terpisah di sebagian besar platform; ia merupakan pembaruan gratis bagi pemilik versi sebelumnya. Di Steam, game ini bahkan tidak memiliki halaman terpisahโversi baru langsung menggantikan versi lama di toko dan pustaka pengguna. Alhasil, banyak media memilih tidak memberikan ulasan penuh, baik karena game ini sudah sangat dikenal maupun karena kode ulasan datang terlambat di musim paling sibuk.
Meski begitu, mereka yang sempat mengulasnya sepakat bahwa kualitasnya tidak terbantahkan. Azario Lopez dari Noisy Pixel, yang baru pertama kali memainkan The Witcher 3, menilai game ini tetap sebagai RPG luar biasa berkat karakter yang kuat, misi sampingan yang memikat, dan dunia yang kaya. Ia mencatat bahwa sistem pertarungan dan pergerakan memang terasa usang, tetapi kekuatan penulisan, eksplorasi, dan progresi membuat pesona petualangan Geralt tetap bertahan.
Dari sisi teknis, Robert Ramsey (Push Square) yang menguji versi PS5 menyebut pertarungan yang dirombak sebagai yang terbaik sepanjang sejarah game ini, dengan tampilan visual paling memukau. Pencahayaan yang didesain ulang dan aset lingkungan yang diperbaiki menambah kedalaman dunia terbuka yang memang sudah detail. Sementara itu, Jennifer Young dari Windows Central yang mencoba versi Xbox Series X mengaku terkesan pada keseruan menjelajah kembali, bahkan setelah berkali-kali memainkannya. Ia memuji sistem kamera dinamis baru dan pohon keterampilan yang dirombak besar-besaran, sehingga membangun karakter terasa segar lagi.
"CDPR sebenarnya tidak perlu mengeluarkan biaya besar atau bersusah payah untuk rilis ini, mengingat popularitas game yang sudah mandiri. Saya rasa sangat terpuji melihat studio memperlakukan game berusia 11 tahun seperti peluncuran utama hanya karena mereka tahu komunitas masih peduli." โ Jennifer Young, Windows Central
Namun, tidak semua pihak menilai perubahan sebagai hal yang mutlak positif. Francesco Cacciatore dari Polygon justru menyebut The Witcher 3 sebagai "mahakarya yang belum selesai". Menurutnya, edisi remastered membawa banyak perbaikan, tetapi tidak cukup mengubah esensi fundamental gameโdan itu justru bagus. Kekurangan-kekurangan game ini, tulisnya, membuat kualitasnya semakin bersinar; itu adalah tanda keterbatasan manusiawi yang membuat setiap karya seni unik dan tak terlupakan.
Fenomena remaster menduduki puncak daftar game terbaik bukan hal baru. Tahun lalu, edisi Switch 2 dari The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom juga menjadi game dengan ulasan terbaik 2025. Klasik tetap klasik karena mampu melewati ujian waktu. Bulan depan, remake The Legend of Zelda: Ocarina of Time dari Nintendo diprediksi akan menuai hasil serupa, terlebih game orisinalnya masih memegang rekor Metacritic tertinggi sepanjang masa dengan skor 99.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini menawarkan beberapa implikasi. Pertama, model upgrade gratis seperti yang dilakukan CD Projekt Red berpotensi menjadi standar baru yang menguntungkan konsumen, terutama di negara dengan daya beli sensitif terhadap harga. Kedua, dominasi remaster di daftar terbaik bisa mendorong pengembang lokal untuk lebih serius menggarap ulang IP lama mereka dengan sentuhan modern, alih-alih hanya mengejar tren battle royale atau gacha. Ketiga, kesuksesan game berusia lebih dari satu dekade ini menegaskan bahwa kekuatan narasi dan dunia yang mendalam tetap menjadi faktor penentu daya tahan sebuah produk di pasar global.
Pertanyaannya kini: akankah The Witcher 3 Remastered bertahan di puncak hingga akhir tahun? Dengan skor 94, peluang itu terbuka lebar, tetapi Grand Theft Auto 6 dan remake Ocarina of Time disebut-sebut sebagai penantang serius. Jawabannya baru akan terlihat sekitar November nanti. Yang jelas, tahun 2026 menjadi saksi bahwa kadang masa lalu masih lebih menggoda daripada masa depan.



