KM Virgo: 74 Tewas, 61 Masih Hilang, Operasi SAR Diperluas ke Udara
Baca dalam 60 detik
- Tim SAR gabungan mengevakuasi tiga jenazah tambahan dari KM Virgo Transport 8, menambah total korban meninggal menjadi 74 orang.
- Sebanyak 61 penumpang masih dinyatakan hilang, sementara 108 orang berhasil diselamatkan dalam insiden kapal terbalik di Perairan Masalembo.
- Basarnas mengerahkan helikopter untuk mempercepat evakuasi dan identifikasi korban, sementara tim DVI baru mengidentifikasi 41 dari 70 jenazah yang diterima.

JAKARTA โ Operasi pencarian dan pertolongan korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik di Perairan Masalembo, Laut Jawa, kembali membuahkan hasil. Tim penyelam gabungan mengevakuasi tiga jenazah tambahan pada Selasa (29/9), sehingga total korban meninggal dalam musibah ini mencapai 74 orang. Hingga berita ini diturunkan, 61 penumpang lainnya masih dalam status hilang dan pencarian terus dilakukan.
Data terkini dari posko SAR menyebutkan, dari total 182 korban yang telah ditemukan, 108 orang selamat dan 74 orang meninggal dunia. Angka ini menempatkan KM Virgo Transport 8 sebagai salah satu kecelakaan pelayaran terburuk di perairan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kapal yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin itu dilaporkan hilang kontak pada 13 September 2026 dini hari, sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembo.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengapresiasi kerja keras seluruh personel SAR gabungan, terutama tim penyelam yang menghadapi tantangan bawah air. Menurutnya, penemuan tiga korban pada hari ini merupakan buah dari sinergi dan keberanian tim di lapangan. "Penemuan tiga korban hari ini merupakan hasil kerja keras, keberanian, dan sinergi seluruh unsur yang terlibat," ujar Syafii dalam keterangan resminya.
Proses evakuasi kali ini melibatkan jalur udara. Dua korban dievakuasi ke kapal KRI, sementara satu lainnya ke KN SAR Pacitan. Selanjutnya, ketiga korban akan diterbangkan menggunakan Helikopter Basarnas HR-3601 dan Helikopter Panther TNI AL HS-1311 menuju fasilitas penanganan dan identifikasi. Langkah ini diambil untuk mempersingkat waktu evakuasi mengingat kondisi medan dan cuaca yang menantang.
Sementara itu, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan terus bekerja mengidentifikasi jenazah. Pada Senin (28/9), mereka berhasil mengidentifikasi 16 jenazah tambahan, sehingga total yang teridentifikasi menjadi 41 orang. Dari jumlah tersebut, 25 jenazah telah diserahkan kepada keluarga. Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes dr Much Sofwan menyatakan, dari 70 jenazah yang diterima RS Bhayangkara Banjarmasin, masih ada 29 yang belum teridentifikasi. "Kami terus berupaya maksimal agar semua korban dapat segera dikembalikan kepada keluarganya," ujarnya.
Musibah KM Virgo Transport 8 bermula ketika kapal tersebut berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Sabtu (12/9). Keesokan harinya, sekitar pukul 02.00 Wita, kapal dilaporkan hilang kontak setelah diterpa cuaca buruk. Tak lama kemudian, kapal ditemukan dalam posisi terbalik di Perairan Masalembo. Hingga kini, penyebab pasti insiden masih dalam penyelidikan, namun cuaca ekstrem diduga menjadi faktor utama.
Insiden ini menyoroti pentingnya peningkatan keselamatan pelayaran di Indonesia, terutama di jalur padat seperti Laut Jawa. Para ahli menilai, meskipun operasi SAR telah berjalan maksimal, masih terdapat celah dalam sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi. Pemerintah diharapkan dapat mengevaluasi standar keselamatan kapal penumpang, termasuk kewajiban penggunaan alat navigasi modern dan pelatihan kru menghadapi situasi darurat.
Ke depan, fokus utama adalah menyelesaikan pencarian 61 korban yang masih hilang dan mempercepat identifikasi jenazah. Selain itu, pertanyaan mengenai akuntabilitas operator kapal dan pengawasan regulasi akan menjadi sorotan publik. Apakah tragedi ini akan mendorong perbaikan menyeluruh dalam industri pelayaran nasional, ataukah kembali tenggelam dalam rutinitas birokrasi?



