Chemistry Timnas Indonesia di ASEAN Cup 2026 Jadi Sorotan, Luciano Leandro: Wajar, Waktu Bersama Terbatas
Baca dalam 60 detik
- Luciano Leandro menilai koneksi antarpemain Timnas Indonesia belum mencapai titik optimal karena minimnya waktu persiapan bersama.
- Kehadiran pemain anyar seperti Luke Vickery dan Mitchell Baker memperpanjang proses adaptasi, sehingga komunikasi di lapangan menjadi prioritas utama.
- Duel kontra Bangladesh di SUGBK menjadi penentu terakhir bagi skuad Garuda untuk mengunci tiket final ASEAN Cup 2026.

Pengamat sepak bola nasional, Luciano Leandro, angkat bicara soal performa Timnas Indonesia di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026. Menurutnya, chemistry antarpemain skuad Garuda memang belum sepenuhnya matang, namun kondisi itu bukanlah sebuah kegagalan, melainkan konsekuensi logis dari waktu persiapan yang singkat.
Dalam dua laga awal, Indonesia menang 2-0 atas Singapura, lalu ditahan imbang 0-0 oleh Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (28/9/2026) malam WIB. Hasil tersebut menyisakan pekerjaan rumah bagi tim asuhan pelatih kepala, terutama dalam hal transisi dan pengambilan keputusan di lapangan.
Luciano menilai bahwa kehadiran nama-nama baru seperti Luke Vickery dan Mitchell Baker turut memperpanjang proses adaptasi. Baginya, tantangan terbesar bukan pada kualitas individu, melainkan bagaimana kemampuan personal itu bisa menyatu menjadi kekuatan kolektif. "Kualitas individu Indonesia sangat baik. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kualitas individu tersebut bisa menjadi kekuatan kolektif," ujarnya kepada Bola.com, Selasa (29/9/2026).
Mantan pelatih Persipura Jayapura itu menegaskan bahwa persoalan chemistry tidak bisa diselesaikan dalam semalam. Ia menyebut koneksi antarpemain akan menguat seiring bertambahnya jam terbang bersama. "Saya tidak mengatakan chemistry Indonesia masih kurang, tetapi masih dalam proses berkembang. Makin sering bermain bersama, makin kuat pemahaman dan koneksi antarpemain," jelasnya.
"Yang paling penting adalah komunikasi dan pemahaman antarpemain terus dibangun, terutama ketika melakukan transisi, mencari ruang, dan menentukan kapan harus bermain cepat atau menahan bola." โ Luciano Leandro
Pernyataan Luciano menyoroti satu aspek krusial dalam sepak bola modern: kolektivitas bukan sekadar jumlah kualitas individu, melainkan hasil dari interaksi yang teruji. Ia menyebut komunikasi sebagai fondasi, khususnya saat tim harus memutuskan kapan menekan, kapan bertahan, dan bagaimana mengisi ruang kosong. Dalam konteks ASEAN Cup 2026, di mana setiap laga berlangsung ketat, kemampuan membaca situasi menjadi pembeda antara tim yang lolos dan yang tersingkir.
Bagi publik Indonesia, situasi ini bukan hal baru. Timnas kerap dihadapkan pada jadwal padat dan pemanggilan pemain lintas kompetisi, sehingga waktu latihan bersama menjadi barang mewah. Namun, Luciano melihat hal itu sebagai bagian dari proses, bukan alasan untuk menurunkan ekspektasi. Ia menekankan bahwa kualitas individu yang dimiliki Indonesia seharusnya bisa menjadi modal untuk tampil lebih solid di laga-laga berikutnya.
Dengan koleksi empat poin, Indonesia berada di posisi kedua klasemen sementara Grup A, memiliki poin sama dengan Malaysia tetapi kalah selisih gol. Posisi ini membuat laga pamungkas melawan Bangladesh di SUGBK pada Kamis (1/10/2026) menjadi penentu. Kemenangan akan memastikan tiket final, sementara hasil lain membuka peluang bagi rival untuk menyalip.
Menarik untuk dicermati, apakah chemistry yang masih dalam proses ini bisa menjadi kekuatan tersembunyi, atau justru menjadi titik lemah yang dieksploitasi lawan. Luciano sendiri optimistis, selama komunikasi terus dibangun, koneksi antarpemain akan semakin kuat. "Ini hal yang wajar karena tim memiliki beberapa pemain baru dan waktu bersama yang terbatas," pungkasnya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Indonesia mengubah proses menjadi hasil di laga krusial nanti? Publik menanti jawabannya di SUGBK.



