Kisah dari Perbatasan Wales: Kupu-kupu Migran dan Sejarah yang Terus Diperebutkan
Baca dalam 60 detik
- Reenakmen Pertempuran Crogen di Shropshire menghidupkan kembali kemenangan Wales atas pasukan Henry II pada 1165, sekaligus menjadi panggung refleksi ekologis.
- Kehadiran dua kupu-kupu clouded yellow yang bermigrasi dari Afrika Utara atau Eropa selatan menyoroti tekanan besar terhadap populasi serangga di Inggris.
- Kisah ini menawarkan pelajaran bagi Indonesia tentang bagaimana narasi sejarah dan keragaman hayati dapat menjadi alat diplomasi budaya dan konservasi.

Di sebuah pub di halaman kastil Oswestry, Shropshire, kisah tentang ambisi Henry II merebut tanah Wales pada 1165 kembali digaungkan. Ratusan tahun kemudian, di bawah langit yang sama, sekelompok pemerhati sejarah menggelar reenakmen Pertempuran Crogen—sebuah pertempuran yang oleh sebagian catatan dianggap kemenangan gemilang pasukan Wales pimpinan Owain Gwynedd atas pasukan Inggris. Namun, di balik denting pedang dan kibaran panji, ada drama lain yang tengah berlangsung: kehadiran dua kupu-kupu migran yang beterbangan di taman kastil, seolah menantang kepunahan serangga yang kian nyata.
Pertempuran Crogen sendiri menyimpan misteri. Sejumlah sejarawan meragukan apakah itu benar-benar pertempuran besar, serangkaian gangguan kecil, atau bahkan tidak terjadi kontak senjata sama sekali. Yang jelas, narasi resmi menyebut Wales keluar sebagai pemenang. Henry II, raja Angevin yang berkuasa atas Inggris, mengerahkan pasukan dari para bangsawan Marcher untuk menyerang aliansi pangeran Wales. Ia bahkan memerintahkan penebangan hutan di Lembah Ceiriog untuk menghilangkan keunggulan taktis lawan, tetapi menyisakan satu pohon ek—Quercus petraea—tempat Owain Gwynedd mengumpulkan pasukannya. Pohon itu kemudian dikenal sebagai Pontfadog oak, ek tertua di Inggris yang menjadi simbol nasional Wales hingga tumbang dalam badai pada 2013 pada usia sekitar 1.600 tahun.
Reenakmen yang digelar di Kastil Chirk, beberapa mil dari lokasi asli, bukan sekadar tontonan. Para pemerannya adalah individu yang mendedikasikan diri untuk menghidupkan kembali masa lalu bagi audiens modern. Dengan kostum berwarna para bangsawan Marcher dan pangeran Wales, kuda-kuda gagah, serta panah yang melesat, pertunjukan itu disertai komentar langsung yang menjelaskan siapa melakukan apa. Bagi penonton, ini adalah jendela ke masa ketika perbatasan Wales-Inggris menjadi ruang sengketa selama berabad-abad—sebuah lanskap yang, seperti tanahnya sendiri, terus diperebutkan maknanya.
Di tengah gemuruh sejarah, dua kupu-kupu clouded yellow (Colias croceus) mencuri perhatian. Serangga ini bermigrasi dari Afrika Utara atau Eropa selatan, melintasi benua untuk mencapai Inggris. Kehadiran mereka di taman kastil bukan sekadar keindahan musiman; ini adalah pengingat getir akan krisis keanekaragaman hayati. Penurunan populasi serangga yang masif di berbagai belahan dunia, termasuk Inggris, membuat setiap kemunculan migran seperti ini terasa sebagai tindakan perlawanan alam. Tidak lama setelah itu, seekor small copper (Lycaena phlaeas) menampakkan diri, seolah memperagakan keberanian seorang pejuang wilayah kuno.
"Sejarah Marches, seperti tanahnya yang trauma dan berhantu, telah menjadi ruang yang diperebutkan selama berabad-abad," tulis penulis Country Diary dalam laporannya.
Bagi Indonesia, kisah dari Shropshire ini bukan sekadar catatan kaki sejarah Eropa. Negara ini memiliki kekayaan sejarah maritim dan kerajaan-kerajaan Nusantara yang tak kalah menarik untuk diangkat melalui reenakmen dan festival budaya. Lebih dari itu, fenomena kupu-kupu migran menyoroti pentingnya konservasi serangga di tengah ekspansi perkebunan dan urbanisasi. Indonesia, sebagai salah satu negara megadiversitas, menghadapi tantangan serupa: hilangnya habitat kupu-kupu endemik seperti Troides helena dan Ornithoptera paradisea. Diplomasi budaya melalui sejarah dan lingkungan bisa menjadi jalan untuk menarik wisatawan sekaligus memperkuat kesadaran ekologis.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana kisah-kisah lokal semacam ini dapat bertahan di tengah perubahan iklim dan tekanan pembangunan? Ketika kupu-kupu migran menjadi simbol perlawanan, apakah manusia akan mengikuti jejak sayap mereka untuk menjaga warisan alam dan sejarah? Reenakmen mungkin berakhir, tetapi pertempuran untuk mempertahankan keragaman hayati dan narasi sejarah baru saja dimulai.



