PSS Sleman Manfaatkan Jeda FIFA Matchday untuk Benahi Lini Tengah
Baca dalam 60 detik
- PSS Sleman memanfaatkan jeda FIFA Matchday tiga pekan untuk mengevaluasi performa dan mencari komposisi ideal di lini tengah.
- Pelatih Pieter Huistra sebelumnya menempatkan pemain bertahan seperti Cleberson Souza dan Christophe Nduwarugira sebagai gelandang demi keseimbangan, namun berencana kembali ke gelandang murni.
- Dengan tiga kekalahan beruntun dan posisi ke-15 tanpa poin, PSS berharap formula baru mampu mendongkrak performa saat menghadapi PSM Makassar pada 11 Oktober 2026.

PSS Sleman memanfaatkan jeda FIFA Matchday selama tiga pekan untuk melakukan pembenahan menyeluruh, dengan fokus utama pada lini tengah. Tim berjuluk Super Elang Jawa itu tengah mencari formula terbaik setelah menelan tiga kekalahan beruntun di awal kompetisi BRI Super League 2026/2027.
Pelatih Pieter Huistra mengungkapkan bahwa selama ini ia kerap menempatkan pemain bertahan di sektor gelandang untuk memberikan keseimbangan dan perlindungan ekstra saat tim kehilangan bola. Cleberson Souza dimainkan sebagai gelandang saat melawan Madura United pada pekan kedua, sedangkan Christophe Nduwarugira mengisi posisi serupa kontra Dewa United di pekan ketiga.
"Kami menempatkan Chris atau Cleberson di lini tengah untuk membantu tim mendapatkan keseimbangan dalam bertahan. Namun, ketika tim sudah lebih stabil, kemungkinan tidak lagi membutuhkan tambahan pemain bertahan di posisi tersebut," ujar Huistra dalam keterangan resminya.
Huistra menegaskan bahwa penempatan pemain bertahan di lini tengah bukanlah solusi jangka panjang. Ia berharap sektor tersebut diisi oleh gelandang murni yang memiliki karakter alami. "Pada akhirnya kami ingin memainkan para gelandang murni di lini tengah. Komposisinya bisa Dion bersama Moussa, Dion bersama Dyar, Moussa bersama Dyar, atau Arda. Mereka memiliki karakter sebagai gelandang dan itu yang menjadi tujuan kami," jelasnya.
PSS sebenarnya memiliki stok gelandang yang melimpah. Selain Dominikus Dion, Moussa Bagayoko, Isfandyar Abdillah, dan Ferrel Arda, masih ada Kim Kurniawan, Hiromu Tanaka, serta Markus Madjar. Kehadiran Frederic Injai juga dinantikan setelah pulih dari cedera. Gelandang asal Prancis itu diperkirakan comeback pada Oktober atau November mendatang. "Tentu saja, jika Frederic sudah kembali, kehadirannya akan sangat membantu tim," tambah Huistra.
"Kami ingin para gelandang murni mengisi lini tengah. Itu tujuan kami." - Pieter Huistra
Evaluasi menyeluruh menjadi keharusan bagi PSS setelah mengawali musim dengan hasil buruk. Tiga kekalahan beruntun membuat mereka terpuruk di dasar klasemen. Jeda FIFA Matchday pun dimanfaatkan tim pelatih untuk menganalisis kelemahan dan mencari racikan yang lebih pas, terutama di sektor tengah yang menjadi jantung permainan.
Dalam konteks BRI Super League, lini tengah yang solid menjadi kunci untuk mengimbangi tim-tim papan atas. PSS yang musim lalu finis di papan tengah tentu berambisi memperbaiki posisi. Namun, tanpa perbaikan signifikan, mereka berisiko terseret ke zona degradasi. Dukungan suporter di Stadion Maguwoharjo juga menjadi faktor penting untuk membangkitkan semangat pemain.
Menghadapi PSM Makassar pada 11 Oktober 2026, PSS dituntut untuk tampil lebih disiplin dan kreatif. Jika Huistra berhasil menemukan komposisi gelandang yang tepat, bukan tidak mungkin Super Elang Jawa bangkit dan meraih poin pertama musim ini. Sebaliknya, kekalahan lagi akan semakin menekan posisi pelatih asal Belanda tersebut.
Pertanyaannya, mampukah PSS Sleman mengakhiri tren negatif dan memulai kebangkitan di hadapan pendukung sendiri? Jawabannya akan terlihat dalam duel melawan PSM Makassar nanti.



