PS5 Kini Bisa Mainkan Game Nintendo Switch, Tapi Ada Syarat Ketat
Baca dalam 60 detik
- Proyek ProsperoEden memungkinkan PS5 yang di-jailbreak menjalankan game Switch melalui emulator, namun masih tahap alpha dan kompatibilitas terbatas.
- Beberapa judul seperti Cuphead dan Metroid Dread berjalan lancar di 40 FPS, sementara Zelda: Breath of the Wild belum bisa dimainkan.
- Inisiatif ini menghadapi risiko hukum dari Nintendo dan memerlukan firmware PS5 tertentu, sehingga tidak praktis bagi pengguna umum.

Sebuah proyek sumber terbuka bernama ProsperoEden memungkinkan konsol PlayStation 5 (PS5) yang telah di-jailbreak untuk menjalankan game Nintendo Switch. Emulator ini dikembangkan dari basis Eden yang sebelumnya sudah berjalan di Windows, macOS, dan Linux, lalu diadaptasi agar kompatibel dengan perangkat keras Sony. Meski masih dalam versi alpha awal, laporan dari VideoCardz mengonfirmasi bahwa emulator ini benar-benar berfungsi, meskipun dengan keterbatasan signifikan.
Kehadiran emulator ini menyoroti celah dalam ekosistem konsol yang biasanya tertutup. PS5 secara resmi hanya dirancang untuk menjalankan game PlayStation, sementara Switch adalah platform eksklusif Nintendo. Dengan memanfaatkan kerentanan pada firmware PS5, pengguna dapat memasang perangkat lunak tidak resmi. Namun, tidak semua game dapat berjalan mulus. Menurut dokumentasi proyek, Cuphead dan Metroid Dread termasuk yang paling stabil dengan frame rate minimal 40 FPS. Hollow Knight, Horizon Chase Turbo, dan Mario Kart 8 Deluxe juga menunjukkan performa serupa. Sebaliknya, The Legend of Zelda: Breath of the Wild dilaporkan tidak dapat dimainkan sama sekali, sedangkan Animal Crossing: New Horizons berjalan dengan masalah besar dan frame rate sekitar 15 FPS yang membuat pengalaman bermain tidak nyaman.
Kendala utama terletak pada penggunaan OpenGL sebagai renderer, karena belum ada dukungan Vulkan. Hal ini membatasi kompatibilitas dan performa grafis. Selain itu, versi firmware PS5 yang berbeda menghasilkan pengalaman yang tidak konsisten. Pengembang terus melakukan perbaikan; rilis v1.000.010 menjanjikan peningkatan pemuatan game dan perbaikan khusus untuk Metroid Dread dan Super Mario 3D World, termasuk optimalisasi operasi multisample dan manajemen shader. Meski demikian, proyek ini masih jauh dari kata stabil untuk penggunaan sehari-hari.
"Proyek ini masih dalam tahap awal dan kompatibilitas dapat berubah seiring pengembangan," demikian pernyataan dalam dokumentasi ProsperoEden.
Bagi pengguna di Indonesia, fenomena ini menarik untuk dicermati. Komunitas gamer Tanah Air dikenal aktif dalam modifikasi konsol dan emulasi, terutama karena harga game original yang relatif mahal. Namun, menjalankan emulator di PS5 memerlukan jailbreak yang berisiko membatalkan garansi dan melanggar ketentuan layanan Sony. Selain itu, aspek legalitas menjadi sorotan: Nintendo memiliki rekam jejak agresif dalam menindak proyek emulasi, seperti yang terlihat pada kasus Yuzu dan Ryujinx. Pengguna yang mengunduh ProsperoEden dari GitHub berisiko menghadapi takedown atau bahkan tuntutan hukum jika terbukti mendistribusikan konten berhak cipta.
Dari sisi industri, langkah ini menunjukkan bahwa batas antarplatform semakin kabur. Emulator memungkinkan pelestarian game lama dan akses bagi pengguna yang tidak memiliki perangkat asli. Namun, di sisi lain, penerbit game dan pembuat konsol melihatnya sebagai ancaman terhadap model bisnis eksklusivitas. Nintendo secara konsisten menolak emulasi karena dianggap merugikan penjualan perangkat dan lisensi game. Sementara itu, Sony tampaknya belum memberikan respons resmi terkait celah keamanan yang dieksploitasi.
Ke depan, nasib ProsperoEden bergantung pada dua faktor: keberlanjutan pengembangan dan tekanan hukum. Jika Nintendo mengambil tindakan seperti yang pernah dilakukan terhadap proyek emulator lain, maka distribusi emulator ini bisa terhenti. Di sisi lain, jika pengembang berhasil meningkatkan kompatibilitas dan performa, bukan tidak mungkin akan ada lebih banyak game Switch yang dapat dimainkan di PS5. Pertanyaannya, apakah pengguna Indonesia siap menanggung risiko teknis dan legal demi menjalankan game Switch di konsol Sony? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: batas antara konsol semakin tipis.



