40 Tahun Kepergian Cliff Burton, Jason Newsted: Bakatnya Bikin Pemain Lain Menyerah
Baca dalam 60 detik
- Jason Newsted mengenang Cliff Burton sebagai bassist dengan kemampuan alami yang jarang ditemui, bahkan membuatnya merasa minder.
- Newsted menyoroti dedikasi James Hetfield dan Lars Ulrich yang rela pindah demi merekrut Burton sebelum Metallica merilis album perdana.
- Empat dekade setelah kecelakaan bus di Swedia, warisan Burton tetap dihormati dan menjadi tolok ukur dalam musik metal.

Jason Newsted, bassist yang menggantikan posisi Cliff Burton di Metallica, memberikan penghormatan emosional pada peringatan 40 tahun kematian Burton. Dalam wawancara dengan Heavy Consequence, Newsted menyebut bakat Burton sebagai sesuatu yang "intimidating as f***"—sebuah pengakuan bahwa kemampuan alami Burton berada di level yang jarang dicapai oleh musisi mana pun.
Cliff Burton meninggal dunia dalam kecelakaan bus tur di Swedia pada 27 September 1986, saat usianya baru 24 tahun. Newsted, yang bergabung sebulan setelah tragedi itu, mengungkapkan bahwa Burton memiliki insting musikal yang luar biasa. "Cliff bisa bangun tidur dan langsung memainkannya. James [Hetfield] bisa bangun setelah berapa pun bir yang diminum dan langsung memainkannya. Bangun 10 menit dari tempat tidur dan bermain sebaik yang bisa saya capai setelah berlatih lima jam," ujarnya.
Newsted juga membandingkan kemampuan remaja Burton dengan Les Claypool dari Primus. Menurutnya, keduanya sudah menjadi pemain elit sebelum menginjak usia dewasa. "Saat [Burton] berusia 16, 17 tahun, dia sudah sangat, sangat bagus. Sama seperti Les [Claypool]... Mereka seangkatan dan memiliki nasib yang sama, tinggal beberapa mil dari satu sama lain, dan pada usia 17 tahun... mereka sudah berada di puncak," tambahnya.
Newsted menyoroti betapa kuatnya keyakinan James Hetfield dan Lars Ulrich terhadap Burton. Ia mengenang keputusan mereka untuk pindah demi merekrut Burton bahkan sebelum Metallica merekam album debut. "James dan Lars, yang juga sangat berbakat, menyadari hal itu dengan sangat kuat sehingga mereka mengubah hidup mereka hanya untuk berada di band yang sama dengan orang itu sebelum mereka membuat rekaman," kenangnya. "Dia memang sehebat itu."
"Dari sudut pandang seorang penggemar dan pemain bass, saya melihatnya tampil pada 1985... setahun sebelum dia meninggal. Rasanya seperti, mengapa Anda repot-repot? Ini kayu bakarnya. Biar saya ambilkan. Mungkin jika saya berusaha sangat keras, saya bisa menjadi sepersepuluh sebaik dia... Pada akhirnya itu menginspirasi dan membuat saya ingin berusaha lebih keras, tetapi sepanjang waktu itu sangat mengintimidasi."
— Jason Newsted
Newsted mengundurkan diri dari Metallica pada 2001 dengan alasan "pribadi dan alasan fisik yang saya lakukan pada diri sendiri selama bertahun-tahun bermain musik yang saya cintai." Metallica saat ini terus menggelar tur global dengan bassist Robert Trujillo.
Bagi penggemar metal di Indonesia, warisan Cliff Burton bukan sekadar nostalgia. Musik Metallica, terutama era Burton pada album Ride the Lightning, Master of Puppets, dan ...And Justice for All, telah menjadi fondasi bagi banyak musisi tanah air. Komunitas metal Indonesia yang besar, dari Jakarta hingga Surabaya, sering menjadikan Burton sebagai referensi teknis dan artistik. Dedikasi Burton pada musik—yang digambarkan Newsted sebagai sesuatu yang "fantastis dalam rentang waktu singkat"—menjadi cermin bagi musisi lokal untuk terus berkarya meski dengan keterbatasan.
Empat dekade setelah kepergiannya, pertanyaan yang tersisa bukan hanya tentang seberapa besar pengaruh Burton, tetapi bagaimana generasi baru musisi Indonesia dapat meneladani semangat dan kerja kerasnya. Apakah warisan itu akan terus menginspirasi, atau hanya menjadi catatan sejarah dalam dunia musik metal?



