RANS Entertainment Akuisisi Hak Siar Shopee Cup, Raffi Ahmad Sebut Investasi Strategis
Baca dalam 60 detik
- RANS Entertainment resmi mengantongi hak siar ASEAN Club Championship Shopee Cup 2026/2027 untuk laga Persib Bandung dan Borneo FC.
- Langkah ini menandai pergeseran lanskap penyiaran olahraga nasional, di mana entitas swasta non-televisi berani menggelontorkan dana besar untuk konten premium.
- Kolaborasi dengan MNC Group berpotensi memperluas jangkauan pasar digital sekaligus menguji model bisnis streaming gratis di tengah dominasi platform global.

RANS Entertainment, perusahaan hiburan milik Raffi Ahmad, resmi mengakuisisi hak siar eksklusif untuk pertandingan ASEAN Club Championship Shopee Cup 2026/2027 yang melibatkan dua wakil Indonesia: Persib Bandung dan Borneo FC. Kesepakatan ini diumumkan langsung oleh Raffi dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin (28/9/2026), menandai babak baru dalam industri penyiaran olahraga tanah air yang kian dimainkan oleh pemain non-tradisional.
Raffi mengungkapkan bahwa nilai kontrak yang ditekennya tidak berada di kisaran satu digit miliar rupiah. “Ini bukan angka yang kecil. Kami membelinya agar masyarakat bisa menonton tanpa biaya,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa motivasi utama bukan semata-mata komersial, melainkan bentuk dukungan terhadap sepak bola nasional. “Sepak bola mempersatukan bangsa. Dukungan untuk Persib dan Borneo bukan lagi soal kedaerahan, tapi Merah Putih di kancah ASEAN,” tambahnya.
Langkah RANS Entertainment ini tidak berdiri sendiri. Perusahaan menggandeng MNC Group sebagai mitra strategis dalam distribusi siaran. Co-CEO MNC Group, Angela Tanoesoedibjo, menyatakan bahwa kolaborasi ini didasari oleh kedekatan RANS dengan demografi muda dan penetrasi digital yang kuat. “Kami ingin memperluas akses agar masyarakat di mana pun dapat mendukung kedua klub,” jelas Angela. Sinergi ini diproyeksikan mampu menjangkau penonton lintas platform, mulai dari televisi terestrial hingga layanan over-the-top (OTT).
Bagi pembaca Indonesia, khususnya para pelaku pasar dan profesional media, akuisisi ini menandakan pergeseran signifikan dalam rantai nilai penyiaran olahraga. Jika sebelumnya hak siar kompetisi internasional didominasi oleh stasiun televisi besar atau platform global, kini pemain lokal dengan basis penggemar kuat seperti RANS mulai mengambil peran. Model bisnis yang diusung—menyajikan siaran gratis—berpotensi mengubah perilaku konsumsi konten olahraga, sekaligus menciptakan peluang monetisasi tidak langsung melalui iklan digital, sponsorship, dan data audiens.
Namun, tantangan tetap ada. Keputusan menggratiskan siaran menuntut strategi pendapatan yang solid. RANS dan MNC Group perlu memastikan bahwa biaya akuisisi hak siar yang fantastis dapat ditutup melalui pendapatan iklan dan kemitraan merek. Di sisi lain, langkah ini juga bisa memicu kompetisi sehat di antara penyedia konten olahraga, yang pada akhirnya menguntungkan konsumen.
“Ini salah satu bentuk komitmen kami untuk mendukung sepak bola Indonesia. Kami beli supaya bisa disaksikan gratis,” tegas Raffi Ahmad.
Ke depan, keberhasilan model ini akan menjadi tolok ukur bagi investor dan pelaku industri kreatif dalam menilai daya tarik pasar olahraga digital Indonesia. Apakah akuisisi hak siar oleh entitas hiburan akan menjadi tren berkelanjutan, atau justru menjadi preseden yang sulit direplikasi? Yang jelas, langkah RANS Entertainment telah membuka diskusi baru tentang siapa yang berhak mengendalikan distribusi konten olahraga premium di era digital.



