Google Rilis Avatar Interaktif di Gemini, tapi Baru untuk Perusahaan Besar
Baca dalam 60 detik
- Google memperkenalkan Live Avatar di Gemini, fitur yang memungkinkan bisnis menampilkan sosok virtual dalam percakapan dengan pelanggan.
- Fitur ini eksklusif untuk pelanggan Enterprise dan mendukung 97 bahasa, tetapi ekspresi emosinya dinilai belum natural.
- Langkah ini berpotensi mengubah layanan pelanggan, namun adopsi di Indonesia masih terkendala akses dan kesiapan infrastruktur.

Google resmi meluncurkan Live Avatar untuk Gemini, sebuah fitur yang memungkinkan perusahaan menampilkan avatar interaktif dalam layanan pelanggan. Fitur ini hanya tersedia bagi pengguna Enterprise melalui Gemini 3.8 Live, menandai langkah Google memasuki pasar antarmuka percakapan yang lebih personal.
Live Avatar menawarkan berbagai pilihan, mulai dari karakter kartun 2D dan 3D hingga persona yang menyerupai manusia. Avatar tersebut dapat berbicara dan mengekspresikan emosi secara real-time selama interaksi verbal. Google mengklaim avatar ini mendukung 97 bahasa dan mampu beralih bahasa di tengah percakapan, dengan gerakan bibir yang disesuaikan dengan bahasa yang diucapkan.
Meski demikian, berdasarkan tinjauan awal yang dipublikasikan Google pada Kamis, aspek ekspresi emosi tampaknya belum sepenuhnya meyakinkan. Avatar yang ditampilkan cenderung kaku dan tidak seekspresif yang dijanjikan. Ini menjadi catatan penting mengingat tujuan utama fitur adalah menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih manusiawi.
Selain berinteraksi, Live Avatar dapat terus melayani pelanggan sementara Gemini menjalankan tugas latar belakang, seperti mengambil informasi dari alat yang terhubung. Google menyatakan tujuan fitur ini adalah membantu perusahaan menciptakan identitas visual yang sesuai dengan merek mereka. Saat ini, bisnis dapat memilih dari pustaka avatar yang telah ditetapkan, dan organisasi yang disetujui dapat membuat avatar kustom dari gambar referensi berkualitas tinggi. Namun, pembuatan avatar kustom memerlukan allowlisting enterprise, sehingga tidak semua perusahaan dapat mengaksesnya.
"Live Avatar dapat terus berinteraksi dengan pelanggan sementara Gemini melakukan tugas latar belakang," ujar Google dalam pengumumannya.
Untuk mencegah penyalahgunaan, audio dan video Live Avatar dilengkapi dengan watermark SynthID. Teknologi ini bertujuan membantu orang membedakan konten AI dari materi asli. Langkah ini sejalan dengan upaya industri untuk meningkatkan transparansi di tengah kekhawatiran tentang deepfake dan manipulasi digital.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran Live Avatar membuka peluang sekaligus tantangan. Perusahaan besar di sektor perbankan, e-commerce, dan telekomunikasi dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan layanan pelanggan, terutama di negara dengan populasi digital yang besar. Namun, akses yang terbatas pada paket Enterprise dan persyaratan allowlisting menjadi hambatan awal. Selain itu, kesiapan infrastruktur AI dan sumber daya manusia di dalam negeri masih perlu ditingkatkan.
Ke depan, fitur ini dapat mendorong adopsi avatar AI di berbagai industri, tetapi keberhasilannya bergantung pada kualitas interaksi dan penerimaan pengguna. Apakah perusahaan di Indonesia akan segera mengadopsi teknologi ini, atau masih menunggu kematangan ekosistem? Waktu yang akan menjawab, tetapi persaingan di ruang layanan pelanggan berbasis AI semakin ketat.



