81% Pasokan Pangan Inggris Tumbuh di Zona Rawan Kekeringan, Ancaman Harga Global
Baca dalam 60 detik
- Rebalance Earth menemukan 81% produk segar Inggris tumbuh di wilayah dengan tekanan air tinggi, memicu risiko gagal panen.
- Produksi sereal, gula, dan kentang terkonsentrasi di area rawan kekeringan seperti East Anglia dan Kent, memperparah kerentanan rantai pasok.
- Dampak berantai pada harga pangan global dan peluang bagi Indonesia sebagai pemasok alternatif di pasar internasional.

Sebuah laporan terbaru dari Rebalance Earth mengungkap bahwa 81% produk segar Inggris—termasuk sereal, kentang, gula, dan minyak—ditanam di wilayah yang menghadapi risiko kekeringan moderat hingga sangat tinggi. Temuan ini menyoroti kerentanan sistem pangan negara tersebut di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman pokok Inggris terkonsentrasi di area yang sudah mengalami tekanan air. Sekitar 77% gandum, 75% barley, dan 74% oilseed rape tumbuh di zona berisiko kekeringan. Selain itu, 70% bit gula dan 67% kentang juga berada di wilayah serupa. Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar seperempat tanaman pangan utama Inggris ditanam di area dengan risiko kekeringan akut, termasuk 30% gandum dan barley, 28% oilseed rape, 27% produk segar, serta 21% kentang.
Kirsty Wilman, Chief Operating and Financial Officer Rebalance Earth, menekankan bahwa kekeringan adalah ancaman yang berkembang perlahan namun berdampak luas. "Kekeringan membangun perlahan dan tenang, jarang mendapat perhatian seperti banjir, tetapi dampaknya menjalar ke seluruh ekonomi: hasil panen menurun, rantai pasok tertekan, dan harga di keranjang belanja kita semua naik," ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana krisis air tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga konsumen dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Wilayah pertanian produktif seperti East Anglia—yang dijuluki lumbung pangan Inggris—dan Kent, yang dikenal sebagai taman Inggris, kini menghadapi tekanan terbesar dari kekeringan. Kedua daerah ini telah mengalami periode kering berkepanjangan dalam beberapa tahun terakhir. Laporan panen terakhir dari Agriculture and Horticulture Development Board (AHDB) untuk tahun 2026 mencatat hasil sereal yang mengecewakan di Inggris dan Wales, dengan volume gandum, barley musim semi, dan oat di bawah rata-rata historis.
Dampak nyata juga dirasakan di Elveden estate di Suffolk, salah satu pertanian komersial terbesar di Inggris yang dimiliki keluarga Guinness. Andrew Blenkiron, pengelola pertanian di sana, mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir, tiga tahun di antaranya mengalami kondisi kekeringan. "Air untuk pangan adalah kunci bagi kami untuk berfungsi sebagai bisnis dan memastikan produksi 100.000 ton pangan per tahun," katanya. Meskipun menghadapi tantangan, Blenkiron menegaskan pentingnya pemanfaatan sumber daya air yang lebih baik untuk tetap menanam pangan pokok di area produktif. "Jika kami tidak menanam di lahan yang sangat cocok untuk itu, kami hanya akan mengimpor lebih banyak dan membiarkan orang lain menguras sumber daya alam mereka," tambahnya.
Krisis ini tidak hanya berdampak pada Inggris, tetapi juga memiliki implikasi global, termasuk bagi Indonesia. Sebagai negara importir gandum dan beberapa komoditas pangan lainnya, penurunan produksi Inggris dapat memicu kenaikan harga di pasar internasional. Indonesia perlu mengantisipasi hal ini dengan memperkuat ketahanan pangan domestik dan diversifikasi sumber impor. Selain itu, momentum ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk pertanian tropis yang tidak terdampak kekeringan, seperti kelapa sawit, kopi, dan rempah-rempah, ke pasar Eropa yang mencari alternatif pasokan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Inggris akan mampu beradaptasi dengan mengelola air secara lebih efisien atau justru semakin bergantung pada impor. Bagi Indonesia, langkah strategis dalam menghadapi ketidakpastian pangan global menjadi semakin mendesak. Apakah negara ini siap memanfaatkan peluang di tengah krisis iklim yang melanda produsen pangan utama dunia?



