Boom Squishy Mendunia: Antara Sensasi Relaksasi dan Bahaya Bahan Kimia
Baca dalam 60 detik
- Mainan squishy yang digemari berbagai kalangan di dunia, termasuk Indonesia, memicu lonjakan penjualan hingga jutaan dolar.
- Otoritas Thailand menyita 20.000 squishy tak lolos uji keamanan, sementara Inggris menemukan kandungan benzena karsinogenik pada sebagian produk.
- Kecelakaan akibat squishy meledak saat dipanaskan mendorong seruan pengawasan lebih ketat terhadap mainan impor murah.

Ledakan popularitas mainan squishy—boneka lentur berbahan busa poliuretan—telah menciptakan fenomena global yang menjangkau dari Bangkok hingga Jakarta. Namun di balik sensasi menekan yang dianggap menenangkan, muncul kekhawatiran serius terkait keamanan produk yang beredar di pasaran, terutama setelah serangkaian insiden ledakan dan temuan zat berbahaya di sejumlah negara.
Di Pasar Sampheng, kawasan grosir di Chinatown Bangkok, etalase toko dipenuhi squishy berbentuk roti, hewan, dan makanan lain. Pengunjung dari berbagai usia tampak antusias menekan-nekan mainan tersebut sebelum memutuskan membeli. Gibb, pemilik toko spesialis Chawa yang telah berjualan lebih dari satu dekade, mengungkapkan bahwa permintaan di Thailand melonjak sejak awal tahun dan memuncak pada Juni-Juli. Bahkan, toko miliknya sempat kewalahan menerima pelanggan hingga tidak cukup ruang untuk menampung mereka.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Thailand. Di Jepang, squishy telah menjadi tren yang dipicu oleh unggahan media sosial, dengan video-video yang menampilkan koleksi atau kreasi squishy menarik jutaan penonton. Daya tariknya melampaui anak-anak; banyak orang dewasa membelinya sebagai alat pereda stres. Namun, lonjakan permintaan yang cepat juga membuka celah bagi produk-produk murah yang tidak memenuhi standar keselamatan.
Kekhawatiran akan keamanan produk semakin menguat setelah berbagai laporan kecelakaan. Di Amerika Serikat, sebuah squishy yang dipanaskan dalam microwave meledak dan menyemprotkan gel panas ke wajah seorang anak, menyebabkan luka bakar serius. Insiden serupa juga terjadi di Inggris, di mana beberapa pasien anak memerlukan cangkok kulit. Bahkan, squishy yang tertinggal di dalam mobil panas dapat meledak dan membahayakan anak-anak.
Dampak dari pemberitaan negatif ini turut dirasakan oleh penjual yang menjual produk sesuai standar. Gibb mengakui bahwa penjualan di tokonya turun hingga setengah dari puncaknya akibat liputan media yang masif. "Produk kami memenuhi standar, tetapi penjualan baru-baru ini turun hingga kurang dari setengah puncaknya, sebagian karena pemberitaan negatif," ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan mainan impor. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Perdagangan perlu memperketat pengawasan terhadap mainan yang masuk ke pasar domestik, mengingat banyak produk serupa dijual dengan harga murah di platform e-commerce. Standar nasional Indonesia (SNI) untuk mainan seharusnya menjadi filter utama, namun implementasinya masih perlu dievaluasi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah regulasi yang ada cukup responsif terhadap tren mainan yang berkembang cepat seperti squishy. Apakah otoritas di Indonesia akan mengambil langkah proaktif untuk menguji dan menarik produk berbahaya sebelum menimbulkan korban? Ataukah kita akan menunggu insiden serupa terjadi di dalam negeri?



