Krisis FIFA Memanas: UEFA Ancam Boikot Piala Dunia, FA Inggris Tarik Dukungan untuk Infantino
Baca dalam 60 detik
- Konflik antara UEFA dan Presiden FIFA Gianni Infantino kian memanas setelah rencana penjualan saham turnamen dibatalkan, namun UEFA menilai permintaan maaf itu tidak cukup.
- FA Inggris secara resmi menarik dukungannya terhadap Infantino, sementara UEFA menyatakan kepercayaannya telah hilang dan mengancam boikot kompetisi termasuk Piala Dunia.
- Langkah UEFA untuk menjatuhkan Infantino menghadapi jalan terjal karena dukungan dari asosiasi lain terpecah, dan pemilihan presiden FIFA Maret mendatang menjadi penentu.

Ketegangan antara UEFA dan Presiden FIFA Gianni Infantino mencapai titik didih. Badan sepak bola Eropa itu menegaskan bahwa permintaan maaf Infantino atas rencana kontroversial penjualan saham turnamen tidak mengubah apa pun, dan ancaman boikot terhadap kompetisi internasional, termasuk Piala Dunia, masih tetap di atas meja. Sikap ini muncul setelah Federasi Sepak Bola Inggris (FA) secara resmi menarik dukungannya terhadap Infantino, menyusul rencana yang memicu kemarahan luas di Eropa.
Krisis ini berakar pada proposal FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah skema yang dirancang untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia putra dan putri kepada investor swasta. Sebagai imbalan, setiap asosiasi nasional ditawari dana sebesar 40 juta dolar AS. UEFA, yang sejak awal menentang keras, menyebut rencana itu sebagai "kesepakatan belakang layar yang buruk dan tidak transparan". Meskipun FIFA akhirnya membatalkan proposal tersebut setelah mendapat tekanan, UEFA menilai langkah itu tidak cukup. Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan dua syarat harus dipenuhi: penarikan total proposal dan jaminan bahwa upaya serupa tidak akan terulang. "Syarat-syarat itu belum terpenuhi," demikian bunyi pernyataan UEFA.
Pertemuan darurat di Rabat, Maroko, pada Rabu lalu menjadi panggung bagi Infantino untuk meredakan amarah. Dalam pertemuan yang dihadiri jajaran manajemen FIFA itu, Infantino mengakui adanya "kesalahan" dan menyampaikan permintaan maaf. Namun, langkah ini justru menuai kritik tajam. UEFA menilai pertemuan itu hanya melibatkan orang-orang yang berada di bawah kekuasaan Infantino, sehingga tidak mencerminkan akuntabilitas yang sesungguhnya. Bahkan, direktur operasional FIFA, Kevin Lamour, yang tidak diundang, secara terbuka mengkritik rencana tersebut sebagai "proyek satu orang" dan menyatakan kesiapannya kehilangan pekerjaan demi mempertahankan integritas. Sikap ini menunjukkan adanya perpecahan internal di tubuh FIFA.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia tentu berharap Piala Dunia tetap berjalan lancar. Ancaman boikot dari UEFA, yang mencakup tim-tim Eropa, dapat mengubah peta kompetisi global dan berpotensi menurunkan kualitas turnamen. Selain itu, dinamika politik di FIFA juga memengaruhi distribusi dana pembangunan sepak bola ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika Infantino jatuh, kebijakan baru bisa saja mengubah prioritas pendanaan, yang berdampak pada program pengembangan sepak bola nasional.
Langkah UEFA untuk menjatuhkan Infantino tidaklah mudah. Untuk memicu mosi tidak percaya, UEFA membutuhkan dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA, atau setidaknya 106 suara. Saat ini, dukungan untuk Infantino masih kuat di banyak kawasan, terutama Afrika dan Asia. Presiden Federasi Sepak Bola Gambia, Lamin Kaba Bajo, bahkan memuji "keberanian" Infantino dan menyatakan dukungannya. Sementara itu, Yordania menjadi satu-satunya negara yang secara terbuka menolak mendukung Infantino. Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara (Concacaf) dan Amerika Selatan (Conmebol) belum mengambil sikap tegas, meskipun mengkritik proses yang tidak transparan.
UEFA juga mempertimbangkan opsi untuk mendukung kandidat penantang, seperti presiden Concacaf Victor Montagliani. Namun, waktu menjadi faktor krusial. Infantino, yang dikenal lihai dalam membangun aliansi, dapat memanfaatkan momentum untuk memperkuat posisinya. FIFA berencana mengumumkan pendanaan baru untuk asosiasi anggota pada akhir tahun ini, yang bisa menjadi alat untuk menarik dukungan. Di sisi lain, jika UEFA benar-benar melakukan boikot, hal itu berisiko memicu perpecahan global dalam sepak bola. Boikot bukanlah alat yang bisa digunakan berulang kali tanpa menimbulkan kesan memaksakan kehendak.
Ujian nyata bagi sikap UEFA akan terjadi pada Piala Dunia U-20 Wanita yang digelar di Polandia mulai 5 September. Enam negara Eropa, termasuk Inggris, dijadwalkan berpartisipasi. Jika boikot benar-benar dilakukan, dampaknya akan langsung terasa. Namun, banyak pihak meragukan UEFA akan mengambil langkah ekstrem tersebut. Yang lebih mungkin terjadi adalah upaya untuk menggalang dukungan bagi kandidat penantang. Pertanyaannya, siapakah yang berani maju melawan Infantino? Dan apakah Eropa mampu menyatukan suara di tengah perbedaan kepentingan? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola dunia dalam beberapa bulan ke depan.



