Crystal Palace Rekrut Takehiro Tomiyasu: Solusi Bek Serba Bisa di Tengah Krisis Lini Pertahanan
Baca dalam 60 detik
- Bek asal Jepang, Takehiro Tomiyasu, dikabarkan telah lolos tes medis dan akan segera menandatangani kontrak dengan Crystal Palace.
- Kedatangan Tomiyasu menjadi jawaban darurat setelah kepergian Marc Guehi dan Maxence Lacroix yang membuat lini belakang The Eagles kehilangan pilar utama.
- Dengan status bebas transfer, Palace menghemat dana untuk rekrutan lain, namun risiko cedera Tomiyasu tetap menjadi pekerjaan rumah bagi pelatih Pierre Sage.

Krisis lini belakang Crystal Palace mulai menemukan titik terang. Klub asal London Selatan itu dikabarkan telah mencapai kesepakatan dengan Takehiro Tomiyasu, bek asal Jepang yang baru saja habis kontraknya bersama Ajax. Menurut laporan jurnalis transfer kenamaan Fabrizio Romano, Tomiyasu telah menjalani tes medis di London dan akan menandatangani kontrak dalam 48 jam ke depan.
Langkah ini tak bisa dilepaskan dari situasi darurat yang melanda Palace. Sebelumnya, Marc Guehi hengkang dan meninggalkan lubang besar di jantung pertahanan. Tak lama berselang, Maxence Lacroix menyusul setelah Chelsea menebusnya dengan mahar 52 juta poundsterling. Dua kepergian itu membuat pelatih anyar Pierre Sage harus berpikir keras untuk merombak lini belakang timnya, apalagi Palace juga akan tampil di Liga Europa musim depan.
Tomiyasu bukanlah nama asing di pentas Premier League. Sebelum membela Ajax, ia menghabiskan empat musim di Arsenal dengan 84 penampilan di semua kompetisi. Kemampuannya bermain di beberapa posisi—baik sebagai bek tengah, bek kanan, maupun bek kiri—menjadi nilai jual utama. Fleksibilitas ini dinilai cocok dengan skema yang kerap dipakai Sage, yang suka berganti antara formasi tiga dan empat bek.
Namun, perjalanan karier Tomiyasu tidak selalu mulus. Cedera berulang di bagian betis, hamstring, dan lutut kerap mengganggu penampilannya. Bahkan, operasi lutut yang dijalaninya membuatnya absen hampir sepanjang musim 2024/25. Arsenal akhirnya memutus kontraknya pada Juli 2025 agar ia bisa fokus pulih tanpa tekanan. Ajax kemudian memberinya kontrak enam bulan pada Desember, tetapi ia hanya tampil sembilan kali karena masalah kebugaran.
Kontrak Tomiyasu di Ajax habis pada Juni lalu, dan Palace memanfaatkan momen ini dengan mengundangnya berlatih selama pramusim. Keputusan itu terbilang hati-hati—mereka ingin memastikan kondisi fisiknya benar-benar prima sebelum memberikan komitmen. Hasilnya, kesepakatan pun tercapai. Dengan status bebas transfer, Palace tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam, sehingga dana hasil penjualan Lacroix bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.
Meski begitu, keputusan ini tetap mengandung risiko. Kemampuan Tomiyasu tidak diragukan, tetapi daya tahannya menjadi tanda tanya besar. Jadwal padat Premier League ditambah Liga Europa bisa menjadi ujian berat bagi bek berusia 27 tahun itu. Manajemen Palace harus pandai mengatur beban kerjanya agar ia tidak kembali cedera. Tomiyasu sebaiknya diposisikan sebagai tambahan pengalaman, bukan satu-satunya solusi di lini belakang.
Konteks ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Banyak penggemar sepak bola Tanah Air yang mengikuti perkembangan pemain Asia di Eropa, dan Tomiyasu adalah salah satu contoh sukses yang menginspirasi. Kehadirannya di Palace akan menambah daftar pemain Asia yang berkarier di liga top Eropa, sekaligus menjadi bukti bahwa kualitas pemain Asia mampu bersaing di level tertinggi.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah apakah Tomiyasu bisa membuktikan bahwa tubuhnya sudah pulih sepenuhnya. Jika ya, Palace bisa mendapatkan pemain berkualitas dengan harga murah. Jika tidak, keputusan ini bisa menjadi bumerang. Namun, satu hal yang pasti: dengan kepergian dua bek andalan, Palace membutuhkan keandalan di lini belakang, dan Tomiyasu kini punya kesempatan emas untuk membuktikan bahwa kualitasnya sepadan dengan kepercayaan yang diberikan.



