Festival Noshiro: Menara Cahaya Tertinggi Jepang dan Perpaduan Tradisi dengan Teknologi Digital
Baca dalam 60 detik
- Dua replika kastil raksasa setinggi 24,1 dan 17,6 meter menjadi pusat perhatian dalam festival Tanabata di Kota Noshiro, Jepang, menarik ribuan pengunjung termasuk perantau yang pulang kampung.
- Perayaan tahun ini tidak hanya menampilkan lentera baru bernama Noshirowaka, tetapi juga menghadirkan pengalaman metaverse dan proyeksi digital yang melibatkan pelajar setempat.
- Inisiatif ini menunjukkan bagaimana kota kecil di Jepang memanfaatkan teknologi untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menarik wisatawan, sebuah pelajaran yang relevan bagi daerah di Indonesia.

Dua replika kastil raksasa yang terbuat dari lentera, masing-masing menjulang setinggi 24,1 meter dan 17,6 meter, menjadi magnet utama dalam perhelatan Noshiro Tanabata Tenku no Fuyajo di Prefektur Akita, Jepang utara, pada 2โ3 Agustus lalu. Ribuan warga, termasuk mereka yang pulang kampung, memadati tepi jalan untuk menyaksikan arak-arakan spektakuler yang dikenal sebagai 'kastil tanpa malam di langit' ini.
Festival tahunan ini bukan sekadar pesta rakyat biasa. Di balik kemegahan visualnya, tersimpan upaya serius untuk menghidupkan kembali kawasan pusat kota Noshiro. Sejak proyek penataan kabel utilitas bawah tanah di sepanjang Rute Nasional 101 rampung pada 2012, dua lentera raksasa dibangun secara berurutan: Chikasue yang menjulang 24,1 meter dan Karoku setinggi 17,6 meter. Keduanya terinspirasi dari arsitektur Kastil Nagoya era Edo (1603โ1867), dihiasi ilustrasi prajurit klasik yang menambah kesan megah.
Yang menarik, tahun ini panitia memperkenalkan lentera baru bernama Noshirowaka, hasil karya siswa sekolah menengah pertama setempat. Diiringi alunan seruling dan taiko, lentera-lentera kecil buatan para pelajar itu turut serta dalam parade, menciptakan harmoni antara tradisi dan partisipasi generasi muda. Tak ketinggalan, teknologi proyeksi mapping menyinari permukaan Chikasue dengan gambar-gambar digital, memanjakan pengunjung yang berlomba mengabadikan momen.
Inovasi tidak berhenti di situ. Di gedung pemerintah kota, panitia mendirikan 'Digital Fuyajo Booth' yang memproyeksikan gambar-gambar karya 88 siswa sekolah dasar ke sebuah balon putih mini berbentuk lentera. Anak-anak juga diajak menjelajah dunia virtual 'metaverse' menggunakan headset realitas campuran, yang disambut decak kagum mereka. Langkah ini menunjukkan bagaimana festival tradisional beradaptasi dengan era digital tanpa kehilangan akar budayanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran berharga. Banyak daerah di tanah air memiliki festival budaya serupa, seperti Cap Go Meh di Singkawang atau Festival Lampion di Solo, yang berpotensi dikembangkan dengan sentuhan teknologi. Integrasi antara warisan budaya dan inovasi digital tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga menciptakan ruang partisipasi bagi generasi muda. Pertanyaannya, mampukah pemerintah daerah dan komunitas di Indonesia meniru langkah Noshiro dalam memadukan tradisi dengan teknologi untuk memikat wisatawan global?



