Eropa Bukan Cuma Panggung Startup AI: Raksasa Teknologi Lama Justru Menuai Untung Besar
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan teknologi mapan Eropa seperti SAP, Capgemini, dan OVHcloud mencatatkan lonjakan pendapatan dan prospek bisnis yang lebih cerah seiring adopsi AI di perusahaan besar.
- Integrasi AI ke dalam sistem perusahaan yang kompleks menjadi tantangan utama, sehingga perusahaan konsultan dan penyedia infrastruktur justru menjadi pemain kunci.
- Tren ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai nilai AI global, terutama melalui pengembangan talenta dan infrastruktur digital.

Gelombang kecerdasan buatan (AI) yang semula diprediksi hanya akan menguntungkan perusahaan-perusahaan rintisan yang membangun model, kini menunjukkan arah berbeda. Laporan keuangan terbaru mengungkap bahwa justru raksasa teknologi Eropa yang sudah mapan—seperti SAP, Capgemini, Sopra Steria, dan OVHcloud—yang menuai keuntungan terbesar dari ledakan AI.
Fenomena ini muncul saat perusahaan-perusahaan di seluruh dunia mulai beralih dari sekadar uji coba AI ke penerapan nyata di operasional bisnis. Dalam prosesnya, mereka menemukan bahwa membuat AI bekerja efektif di dalam organisasi yang kompleks jauh lebih sulit daripada sekadar mengakses teknologinya. Perusahaan besar tidak akan bergantung pada satu penyedia AI; mereka justru akan menggunakan berbagai model untuk tugas yang berbeda, bergantung pada kinerja, keamanan, dan kepatuhan regulasi. Tantangan terbesar kini bukan lagi memilih model, melainkan mengintegrasikan AI dengan perangkat lunak, data, dan proses bisnis yang sudah ada.
"Aplikasi AI adalah medan pertempuran, dan di sanalah nilai terbesar akan diciptakan," demikian pernyataan UBS dalam catatan terbarunya. Kondisi ini menjadi angin segar bagi perusahaan-perusahaan Eropa yang selama puluhan tahun membangun bisnis dengan membantu organisasi besar mengintegrasikan teknologi kompleks, jauh sebelum AI generatif lahir. Mereka memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk mengatasi kekacauan sistem lama, database yang terfragmentasi, dan kebutuhan tata kelola yang semakin ketat.
Boston Consulting Group (BCG) menggarisbawahi bahwa kompleksitas ini menjadi kendala terbesar adopsi AI. Lebih dari 70 persen investor khawatir organisasi belum memiliki kapabilitas teknis dan operasional yang memadai. Akibatnya, belanja untuk implementasi, integrasi, dan tata kelola menjadi bagian yang semakin penting dalam rantai nilai AI. SAP, misalnya, mencatatkan backlog cloud melonjak 26 persen menjadi €22,9 miliar, sementara Capgemini menaikkan target pertumbuhan tahunan setelah pemesanan naik 9,2 persen. Sopra Steria juga merevisi prospeknya setelah pertumbuhan organik mencapai 5,3 persen.
Keahlian integrasi ini sangat bernilai di sektor pertahanan, kedirgantaraan, kesehatan, dan infrastruktur kritis, di mana AI harus disesuaikan dengan perangkat lunak khusus dan proses operasional yang ketat. Tren kedua yang memperkuat posisi perusahaan Eropa adalah meningkatnya permintaan akan kendali atas penerapan AI. CEO Publicis, Arthur Sadoun, mengungkapkan bahwa klien semakin menginginkan model AI canggih yang beroperasi di lingkungan yang tetap mereka kendalikan, baik dari sisi teknologi maupun data. Preferensi ini paling kuat di sektor pertahanan dan infrastruktur kritis, di mana kekhawatiran akan kedaulatan, keamanan, dan kepatuhan sangat tinggi.
Keputusan Airbus menggunakan Scaleway—milik grup telekomunikasi Prancis Iliad—untuk aplikasi industri dan pertahanan yang sensitif, di samping alat AI yang dikembangkan bersama Mistral, mencerminkan pergeseran ini. Airbus memperkirakan sekitar 70 aplikasi kritis akan berjalan di Scaleway pada akhir 2028. Sementara itu, pendapatan cloud publik OVHcloud naik 20,2 persen pada kuartal ketiga, menjadi bukti awal bahwa permintaan akan infrastruktur AI yang dikendalikan Eropa—yang tidak tunduk pada hukum ekstrateritorial seperti Cloud Act AS—mulai menghasilkan pertumbuhan komersial.
Bagi Indonesia, tren ini menghadirkan pelajaran dan peluang. Meski bukan pemain utama dalam pengembangan model AI, Indonesia dapat mengambil peran dalam rantai nilai global melalui penguatan talenta digital dan infrastruktur. Perusahaan-perusahaan lokal yang bergerak di bidang konsultasi teknologi, integrasi sistem, dan layanan cloud berpotensi menjadi mitra strategis bagi perusahaan multinasional yang ingin menerapkan AI di pasar Asia Tenggara. Pemerintah juga dapat mendorong adopsi AI yang bertanggung jawab dengan membangun kerangka regulasi yang jelas, sekaligus memastikan kedaulatan data nasional.
Pertanyaannya kini, mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini? Atau justru akan kembali menjadi penonton di tengah persaingan global yang semakin ketat? Jawabannya bergantung pada kesiapan kita dalam membangun ekosistem digital yang tidak hanya konsumtif, tetapi juga produktif dan inovatif.



