Pendapatan SpaceX Melonjak Hampir Dua Kali Lipat, Bisnis AI dan Starlink Jadi Mesin Pertumbuhan
Baca dalam 60 detik
- Laporan keuangan perdana SpaceX sejak IPO menunjukkan pendapatan kuartal II mencapai US$7,8 miliar, naik 90% dari periode yang sama tahun lalu.
- Bisnis AI dan komputasi awan menjadi pendorong utama, dengan pendapatan melonjak 250%, meski belanja modal membengkak hingga US$18 miliar.
- Target ambisius pendapatan tahunan US$100 miliar dan ekspansi kapasitas komputasi 10 gigawatt pada 2025 menegaskan strategi jangka panjang Elon Musk.

SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, mencatatkan pendapatan hampir dua kali lipat pada kuartal kedua tahun ini, didorong oleh bisnis satelit Starlink dan kecerdasan buatan (AI) yang tumbuh pesat. Dalam laporan keuangan pertamanya sejak melantai di bursa, perusahaan ini juga mengisyaratkan bahwa belanja besar untuk ambisi ekspansinya masih akan terus berlanjut.
Pendapatan SpaceX pada periode April-Juni mencapai US$7,8 miliar, naik signifikan dari US$4,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, melampaui ekspektasi analis. Starlink, yang menyumbang lebih dari separuh pendapatan total, tumbuh 66%, sementara pendapatan dari bisnis AI melonjak sekitar 250%. Pertumbuhan ini menjadi ujian awal bagi investor terhadap valuasi SpaceX yang mencapai US$1,75 triliun, yang bertumpu pada keyakinan bahwa laba dari bisnis internet satelit dapat mendanai ekspansi besar-besaran di bidang AI, pusat data, dan roket generasi berikutnya.
Meski bisnis AI menunjukkan tanda-tanda komersialisasi yang menjanjikan, manajemen menggarisbawahi bahwa kebutuhan belanja untuk membangun kapasitas AI masih sangat besar. Belanja modal perusahaan membengkak menjadi lebih dari US$18 miliar, dibandingkan US$2,83 miliar pada tahun sebelumnya. Khusus untuk AI, SpaceX mengucurkan dana hingga US$15,83 miliar pada kuartal kedua, naik drastis dari US$749 juta pada periode yang sama tahun lalu. Elon Musk, dalam panggilan konferensi, menegaskan, "Kami membangun kapasitas komputasi AI dalam skala besar lebih cepat dari siapa pun, dan kami secara signifikan meningkatkan model AI kami."
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, terdapat tantangan. Saham SpaceX justru merosot 7,5% pada perdagangan setelah jam bursa, setelah sebelumnya naik 9,4%. Sejak IPO pada Juni, saham perusahaan telah turun 8%. Tekanan tambahan diperkirakan datang dari berakhirnya periode lock-up pasca-IPO yang dimulai Kamis ini, yang berpotensi membanjiri pasar dengan saham dari investor awal dan orang dalam. Di sisi lain, kerugian operasional berhasil dipersempit menjadi US$143 juta dari US$970 juta, dengan pendapatan operasional Starlink melonjak 79%.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang signifikan. Starlink telah masuk ke pasar Indonesia dan menjadi salah satu pemain kunci dalam penyediaan internet satelit, terutama di daerah terpencil. Ekspansi Starlink yang agresif, termasuk rencana menantang operator telekomunikasi seluler seperti T-Mobile, AT&T, dan Verizon, dapat mengubah lanskap persaingan layanan internet di Indonesia. Jika Starlink berhasil menawarkan layanan mobile yang terintegrasi dengan satelit, operator lokal seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata perlu bersiap menghadapi kompetisi yang lebih ketat. Namun, penurunan pendapatan rata-rata per pelanggan (ARPU) Starlink sebesar 22% menunjukkan bahwa perusahaan ini agresif dalam menetapkan harga murah untuk merebut pasar, sebuah strategi yang bisa menjadi ancaman bagi pemain lokal.
Analis memandang bahwa kemampuan AI untuk menghasilkan pendapatan sendiri menjadi kunci positif. "Itu adalah kejutan besar hari ini, fakta bahwa AI sudah memonetisasi dirinya sendiri. Mereka tidak bergantung pada Starlink untuk mendanai operasi di sana. Saya pikir itu bagian besar dari cerita," ujar Brian Mulberry, chief market strategist di Zacks Investment Management. SpaceX juga telah mengamankan kontrak komputasi dengan Anthropic, Google, dan Reflection AI, meskipun sebagian pendapatan berulang belum diakui. Musk menargetkan kapasitas komputasi lebih dari 2 gigawatt tahun ini dan mendekati 10 gigawatt pada akhir tahun depan, dengan menggunakan perangkat keras Nvidia secara eksklusif.
Di sisi lain, bisnis antariksa yang mencakup peluncuran komersial, misi pemerintah, dan pengembangan Starship, tumbuh 29% tetapi tetap menjadi sumber biaya dan ketidakpastian. SpaceX semakin memprioritaskan peluncuran untuk jaringan satelitnya sendiri dibandingkan muatan pihak ketiga, sambil terus menyerap biaya besar untuk pengembangan Starship. Pertanyaannya, mampukah SpaceX menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan belanja modal yang membengkak? Atau akankah tekanan pasar dan persaingan mengubah arah strategi raksasa antariksa ini?



