Paramount Skydance Catat Kinerja Beragam di Kuartal II, Merger Warner Bros. Terancam Gugatan Antitrust
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan Paramount Skydance naik tipis 1% menjadi US$6,91 miliar, tetapi laba bersihnya anjlok jauh di bawah ekspektasi analis.
- Gugatan antitrust dari 12 negara bagian AS akan disidangkan pada Maret tahun depan, berpotensi menunda akuisisi senilai US$110 miliar terhadap Warner Bros. Discovery.
- Paramount+ menambah 2 juta pelanggan baru berkat konten unggulan seperti sekuel Yellowstone dan ajang olahraga besar, namun divisi televisi tradisional masih merosot.

Paramount Skydance, raksasa media asal Amerika Serikat, melaporkan hasil kuartal kedua yang beragam pada Selasa (4/8). Pendapatan perusahaan naik tipis 1 persen menjadi US$6,91 miliar, sedikit di atas perkiraan analis yang dipatok US$6,88 miliar. Namun, laba bersihnya hanya mencapai US$41 juta atau 4 sen per saham, jauh dari proyeksi US$109 juta atau 9 sen per saham. Angka ini mencerminkan tekanan di tengah upaya perusahaan menyelesaikan akuisisi raksasa Warner Bros. Discovery senilai US$110 miliar.
Kinerja positif datang dari lini streaming dan studio, yang berhasil mengompensasi penurunan pendapatan di sektor televisi. Pendapatan streaming mencapai hampir US$2,5 miliar, tumbuh 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Paramount+ menambah 2 juta pelanggan baru, sehingga totalnya menjadi 81,6 juta. Kesuksesan ini didorong oleh sekuel 'Yellowstone', 'Dutton Ranch', serta ajang olahraga seperti UFC Freedom 250 dan Piala Dunia FIFA. Sementara itu, divisi studio mencatat pendapatan US$1,3 miliar, ditopang penjualan konten ke pihak ketiga seperti Netflix dan Amazon Prime Video, meskipun jadwal rilis film musim panas lebih lemah dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, pendapatan divisi televisiโyang meliputi CBS dan jaringan kabel seperti Comedy Centralโturun 9 persen menjadi US$3,1 miliar. Penurunan ini menjadi sorotan karena mencerminkan pergeseran preferensi konsumen dari TV tradisional ke layanan streaming. Chief Operating Officer Andy Gordon mengungkapkan bahwa perusahaan telah menggabungkan layanan streaming ke satu platform teknologi untuk meningkatkan efektivitas promosi konten. Selain itu, Paramount juga menjalin kerja sama multi-tahun dengan Mattel untuk menggarap lisensi produk konsumen dari waralaba Teenage Mutant Ninja Turtles.
Di tengah kinerja keuangan yang beragam, fokus utama pasar tertuju pada nasib merger dengan Warner Bros. Discovery. Pengadilan federal di California telah menetapkan sidang gugatan antitrust yang diajukan oleh California dan 11 negara bagian lainnya akan digelar pada Maret tahun depan. Gugatan ini berupaya memblokir akuisisi senilai US$110 miliar dengan alasan kekhawatiran monopoli pasar. CEO Paramount, David Ellison, dalam panggilan pendapatan menyatakan optimismenya: "Kami sangat terbuka untuk mencari solusi di luar pengadilan, tetapi kami juga yakin akan menang di persidangan."
Ellison juga menulis esai di New York Times, menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap merger ini lebih disebabkan oleh kepercayaan publik terhadap dirinya sebagai pengelola CNN, bukan semata-mata konsentrasi pasar. Ia berjanji menjaga independensi CNN, yang menjadi salah satu aset penting dalam kesepakatan ini. Sementara itu, Paramount telah setuju untuk menunda penyelesaian transaksi hingga Juni 2027, sambil menunggu putusan pengadilan. Jika merger gagal diselesaikan, perusahaan bisa terkena biaya penundaan (ticking fees) hingga US$1,7 miliar kepada pemegang saham Warner Bros., dengan biaya harian US$7 juta jika kesepakatan tidak rampung pada 30 September.
Bagi industri media global, kasus ini menjadi ujian penting bagi gelombang konsolidasi yang tengah terjadi. Di Indonesia, dinamika ini relevan mengingat semakin derasnya arus investasi asing di sektor streaming dan produksi konten. Para pemain lokal seperti Vidio, MNC Vision, dan Transvision perlu mencermati bagaimana regulasi antitrust di negara maju dapat memengaruhi strategi ekspansi raksasa global. Jika merger Paramount-Warner batal, bisa jadi ada peluang bagi platform lokal untuk mengisi celah pasar yang ditinggalkan. Sebaliknya, jika merger lolos, persaingan konten di Asia Tenggara akan semakin ketat.
Ke depan, keputusan pengadilan pada Maret akan menjadi penentu arah industri hiburan global. Pertanyaannya, akankah regulator semakin ketat dalam mengawasi konsolidasi media, atau justru memberi ruang bagi integrasi vertikal yang lebih besar? Bagi pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini layak dipantau karena dapat menjadi preseden bagi kebijakan persaingan usaha di sektor media tanah air.



