Oracle Terjepit di Tepi Jurang: Utang Raksasa dan Taruhan AI yang Membuat Investor Gelisah
Baca dalam 60 detik
- Oracle menghadapi risiko penurunan peringkat kredit ke level junk setelah utangnya membengkak akibat belanja besar-besaran untuk infrastruktur AI.
- Langkah agresif Oracle kontras dengan pesaingnya yang memiliki leverage rendah, memicu kekhawatiran tentang keberlanjutan model bisnisnya.
- Jika peringkat turun, biaya pendanaan Oracle akan melonjak, berpotensi mengguncang pasar teknologi global dan mempengaruhi investor di Indonesia.

Raksasa komputasi awan Oracle Corp. tengah berada di persimpangan berisiko tinggi. Peringkat kreditnya nyaris jatuh ke status sampah (junk), sementara harga sahamnya merosot tajam—konsekuensi dari strategi ekspansi kecerdasan buatan (AI) yang digerakkan oleh utang besar-besaran. Fenomena ini menjadi alarm bagi investor global, termasuk di Indonesia, yang selama ini menikmati reli saham teknologi.
Oracle, yang selama ini dikenal sebagai pemain mapan di pasar perangkat lunak, kini berubah menjadi outlier di antara raksasa teknologi seperti Alphabet, Amazon, Microsoft, dan Meta. Keempat perusahaan tersebut memasuki era AI dengan rasio utang terhadap EBITDA di bawah 1 kali. Sebaliknya, Oracle mencatatkan utang mencapai USD 129,5 miliar atau sekitar 4,3 kali EBITDA—angka yang memicu sinyal bahaya di mata analis. Bahkan, komitmen sewa pusat data senilai USD 260 miliar yang ditandatangani tahun lalu, sebagian besar belum tercatat sebagai utang, membuat gambaran keuangannya semakin suram.
Langkah berani Oracle ini terungkap dalam laporan fiskal yang berakhir Mei 2026. Arus kas bebasnya negatif, dan hampir seluruh pendapatan tersedot untuk belanja modal. S&P Global Ratings bereaksi cepat dengan menurunkan peringkat Oracle ke BBB-, satu tingkat di atas junk, pada Juli lalu. Moody's dan Fitch juga memberikan outlook negatif, mengisyaratkan potensi penurunan lebih lanjut jika leverage memburuk. Kondisi ini memicu pertanyaan besar: apakah Oracle sedang mempertaruhkan masa depannya pada AI, atau justru menciptakan bom waktu finansial?
Bagi pasar Indonesia, guncangan Oracle menjadi pengingat akan risiko investasi di sektor teknologi yang sedang naik daun. Banyak perusahaan rintisan dan emiten teknologi di dalam negeri yang juga mengandalkan pendanaan eksternal untuk ekspansi. Jika Oracle jatuh ke status junk, imbasnya bisa terasa melalui peningkatan biaya pinjaman global dan koreksi di pasar saham teknologi, yang kerap menjadi acuan investor lokal. "Kita perlu mencermati bagaimana perusahaan dengan leverage tinggi bertahan di tengah gejolak suku bunga," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta, yang enggan disebut namanya.
Analis Morgan Stanley, Lindsay Tyler, menyoroti risiko "fallen angel"—perusahaan yang jatuh dari investment grade ke junk—sebagai ancaman jangka menengah. "Risiko itu tidak langsung terjadi, tetapi menjadi pertimbangan serius ketika mengeksekusi dan memonetisasi aset," katanya. Sementara itu, S&P memperkirakan rasio utang Oracle akan memuncak di 4,4 kali dalam dua tahun fiskal mendatang, masih di bawah ambang batas 4,5 yang memicu penurunan peringkat. Namun, ketidakcocokan antara sewa pusat data jangka panjang (15-19 tahun) dan kontrak pelanggan jangka pendek (hingga 5 tahun) menjadi risiko kunci yang disorot analis.
Oracle sendiri membantah kekhawatiran tersebut. Perusahaan menunjuk pada pertumbuhan remaining performance obligations (RPO) yang mencapai USD 638 miliar sebagai bukti bahwa pengeluaran besar ini akan terbayar. Namun, hampir separuh dari RPO tersebut berasal dari kontrak dengan OpenAI, perusahaan AI yang juga belum terbukti menghasilkan arus kas positif. "Jika tesis investasi kita bergantung pada pendapatan masa depan yang belum pasti, terutama dari perusahaan berisiko tinggi, maka investasi itu menjadi semakin rapuh," ujar Colby Stilson dari Brown Advisory.
Di tengah ketidakpastian ini, mayoritas analis masih merekomendasikan beli saham Oracle, dan beberapa manajer investasi seperti Neuberger Berman tetap memegang obligasinya. Namun, ada juga yang skeptis. Alex Haissl dari Rothschild & Co Redburn memberi rekomendasi jual, dengan alasan pasar terlalu optimis bahwa pusat data akan selesai tepat waktu dan menghasilkan pendapatan sesuai proyeksi. "Kami jauh lebih hati-hati terhadap ekonomi di balik ini," tegasnya.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah Oracle mampu membuktikan bahwa taruhan besarnya pada AI adalah langkah visioner, atau justru menjadi peringatan bagi seluruh industri? Jawabannya akan menentukan arah pasar teknologi global—dan memberikan pelajaran berharga bagi para pemain di Indonesia yang tengah berlomba membangun infrastruktur digital.



