Ribuan Pelayat Mengiringi Franco Baresi ke Peristirahatan Terakhir: Legenda yang Tak Pernah Tergantikan
Baca dalam 60 detik
- Massa memadati jalanan Milan untuk memberi penghormatan terakhir kepada Franco Baresi, ikon AC Milan yang wafat di usia 66 tahun.
- Sepanjang 20 tahun kariernya, Baresi mengabdi untuk satu klub, mempersembahkan 18 trofi dan menjadi kapten dengan gelar terbanyak dalam sejarah Rossoneri.
- Kepergian Baresi meninggalkan warisan abadi, termasuk pensiunnya nomor punggung 6 dan statusnya sebagai presiden kehormatan klub.

Ribuan orang berbaris di sepanjang jalan menuju Basilika Sant'Ambrogio, Milan, pada Selasa (16/7), untuk mengucapkan selamat jalan kepada Franco Baresi, bek legendaris yang menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama AC Milan. Kepergian pria 66 tahun itu setelah berjuang melawan penyakit menjadi duka mendalam bagi dunia sepak bola, khususnya bagi klub yang membesarkan namanya.
Baresi, yang dikenal sebagai salah satu bek terbaik sepanjang masa, telah menjadi simbol loyalitas dan dedikasi. Selama 20 tahun membela Milan, ia mencatatkan 719 penampilan dan 33 gol, sebuah angka yang menempatkannya di posisi kedua dalam daftar penampilan terbanyak sepanjang sejarah klub. Namun, lebih dari sekadar statistik, ia adalah pemimpin sejati yang mengantar Milan meraih 18 trofi, termasuk enam gelar Serie A dan tiga Liga Champions.
Kehadiran para legenda seperti Paolo Maldini, Marco van Basten, dan Roberto Baggio dalam upacara pemakaman menunjukkan betapa besar pengaruh Baresi. Meski skuad utama Milan sedang menjalani tur pramusim di Australia, beberapa pemain seperti Christian Pulisic tetap hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Milan juga berencana memberikan penghormatan khusus sebelum laga persahabatan melawan Inter Milan pada Rabu (17/7).
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah Baresi mengingatkan pada nilai kesetiaan dan profesionalisme yang semakin langka di era modern. Di tengah maraknya pemain yang berpindah klub demi uang atau trofi, Baresi adalah contoh nyata bahwa kesetiaan bisa berbuah manis. Ia tidak hanya dikenang sebagai pemain hebat, tetapi juga sebagai pribadi yang rendah hati dan berdedikasi.
Warisan Baresi tidak hanya terpatri di piala dan penghargaan, tetapi juga dalam cara ia membangun pertahanan Milan yang legendaris bersama Maldini, Costacurta, dan Tassotti. Ia adalah arsitek di balik era keemasan Milan pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, yang menjadi inspirasi bagi banyak pemain belakang dunia, termasuk di Indonesia.
Kepergian Baresi meninggalkan pertanyaan besar: akankah ada lagi pemain dengan loyalitas dan kualitas seperti dirinya? Di tengah sepak bola yang semakin komersial, mungkin jawabannya adalah tidak. Namun, kenangan akan permainannya yang elegan dan kepemimpinannya yang tenang akan terus hidup, tidak hanya di Milan, tetapi juga di hati para pecinta sepak bola di seluruh dunia, termasuk Indonesia.



