Jepang Pacu Industri Drone Tempur: Respons atas Perang Modern dan Ketegangan Asia
Baca dalam 60 detik
- Tokyo memprioritaskan pengembangan drone tempur dalam negeri untuk pertahanan pesisir, merespons taktik perang modern yang terlihat di Ukraina dan Timur Tengah.
- Buku putih pertahanan setebal 598 halaman menegaskan China sebagai tantangan strategis terbesar, dengan kekhawatiran atas aktivitas kapal perang dan latihan militer bersama Rusia.
- Langkah ini membuka peluang bagi industri pertahanan Jepang, termasuk melibatkan startup, di tengah upaya mengatasi penurunan jumlah personel militer.

Pemerintah Jepang secara resmi mengumumkan langkah strategis untuk mengadopsi teknologi perang baru, termasuk drone dan kecerdasan buatan, sebagai inti dari doktrin pertahanan terbarunya. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan regional dan menjadi sinyal kuat bahwa Tokyo serius memperkuat industri militernya.
Dalam buku putih pertahanan tahunan yang disetujui Kabinet pada Selasa (4/8/2026), Jepang secara eksplisit menyebut China sebagai "tantangan strategis terbesar". Dokumen setebal 598 halaman itu menyoroti frekuensi dan skala aktivitas kapal perang China di Pasifik yang kian mengkhawatirkan, termasuk insiden radar pesawat tempur China yang mengunci pesawat Jepang pada Desember lalu.
Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menegaskan bahwa kecepatan pengembangan teknologi menjadi kunci. "Speed is key," ujarnya pada awal Juli. Untuk itu, Badan Akuisisi, Teknologi, dan Logistik telah menyeleksi empat produsen drone dari 38 pelamar untuk program pengembangan cepat. Keempat kandidat akan memasuki tahap uji coba oleh Angkatan Laut Jepang pada awal Agustus sebelum seleksi akhir.
Langkah ini tidak terlepas dari pelajaran yang dipetik dari konflik Ukraina, di mana drone mengubah cara perang dilakukan. Jepang menilai kemampuan drone untuk pertahanan pesisir, dikombinasikan dengan rudal jarak jauh, menjadi prioritas. Perusahaan-perusahaan besar seperti Toshiba pun mulai merespons dengan mengumumkan kerja sama pengembangan drone tempur bersama startup Pro Drone.
Namun, tantangan besar menghadang. Para pengamat menunjukkan bahwa pasar drone komersial Jepang masih didominasi produk impor dari China, sehingga pengembangan drone sepenuhnya dalam negeri membutuhkan lompatan besar. Di sisi lain, populasi Jepang yang menua dan menyusut membuat kebutuhan akan sistem senjata tanpa awak semakin mendesak untuk mengkompensasi berkurangnya jumlah personel militer.
Ketegangan dengan China semakin memuncak setelah pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November lalu yang menyebut bahwa aksi militer China terhadap Taiwan dapat membenarkan penggunaan kekuatan oleh Jepang. Buku putih juga menyoroti meningkatnya operasi militer gabungan China-Rusia di sekitar Jepang, termasuk penerbangan bomber dan operasi kapal perang, sebagai "kekhawatiran keamanan nasional yang serius".
Korea Utara juga menjadi sorotan dengan pengembangan rudal hipersonik yang dinilai sebagai "ancaman yang semakin serius dan mendesak". Pyongyang yang memperkuat hubungan militer dengan Moskow dan mendukung perang di Ukraina menambah kompleksitas situasi keamanan kawasan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi langsung. Sebagai negara yang juga aktif di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia perlu mencermati bagaimana Jepang menyeimbangkan postur pertahanan dengan diplomasi. Kehadiran kapal perang asing yang semakin intensif di perairan regional menuntut kewaspadaan dan penguatan kerja sama maritim, termasuk dengan Jepang yang selama ini menjadi mitra strategis Indonesia.
Di dalam negeri, Jepang tengah berupaya mengikis hambatan budaya terhadap industri senjata. Setelah Perang Dunia II, banyak perusahaan besar enggan terlibat dalam produksi senjata mematikan. Namun, gelombang startup mulai menunjukkan minat untuk mengonversi teknologi dual-use untuk keperluan militer. Pencabutan larangan ekspor senjata mematikan juga diharapkan dapat merevitalisasi industri pertahanan yang selama ini tertinggal.
Koizumi menekankan bahwa transfer teknologi dan produksi bersama tidak hanya memperkuat basis industri pertahanan Jepang, tetapi juga hubungan dengan mitra-mitra pertahanannya. Kesepakatan besar telah diraih, termasuk pengembangan dan transfer 11 fregat kelas Mogami ke Australia, serta negosiasi serupa dengan Selandia Baru dan penjualan kapal perusak pensiun ke Filipina.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Jepang akan menjadi kekuatan militer yang lebih aktif, tetapi seberapa cepat dan sejauh mana transformasi ini akan berjalan. Dengan uji coba drone yang akan segera dimulai dan meningkatnya kerja sama industri, Jepang tampaknya bertekad untuk tidak tertinggal dalam perlombaan teknologi militer regional. Apakah langkah ini akan memicu eskalasi atau justru menciptakan keseimbangan baru di kawasan? Waktu yang akan menjawab.



