Kritik CEO Moon Studios: Xbox Terlalu Bernostalgia, Gagal Berinovasi
Baca dalam 60 detik
- CEO Moon Studios menilai Xbox terlalu bergantung pada waralaba lama seperti Halo dan Gears, sehingga gagal menangkap antusiasme gamer.
- Mahler mengkritik Microsoft yang tidak cukup melindungi tim kreatif dan gagal mengembangkan pengalaman baru untuk keluarga, seperti dilakukan Nintendo.
- Gelombang PHK di Xbox disebut sebagai awal dari restrukturisasi besar yang bisa mengubah peta persaingan industri game global.

Gelombang PHK dan restrukturisasi di Xbox menuai kritik tajam dari Thomas Mahler, CEO Moon Studios, pengembang di balik seri Ori. Dalam unggahannya di platform X, Mahler menyebut bahwa masalah Xbox bukan sekadar gejolak sesaat, melainkan akibat dari strategi yang terlalu berorientasi pada masa lalu.
Mahler, yang pernah bekerja sama dengan Microsoft dalam pengembangan dua game Ori, menilai bahwa Xbox terlalu lama bergantung pada waralaba ikonik seperti Halo, Gears of War, dan Forza. Menurutnya, antusiasme terhadap seri-seri tersebut sudah meredup setelah pengembang aslinya—Bungie dan Epic Games—berpindah ke proyek lain. Namun, Xbox tetap memaksakan fokus pada merek-merek lama ketimbang menjajal terobosan baru.
Kritik Mahler menyoroti kegagalan Xbox dalam mengidentifikasi dan memberdayakan talenta kreatif. "Xbox telah lama kesulitan menemukan, memberdayakan, dan melindungi orang-orang serta tim kreatif kunci yang bisa menjaga merek ini tetap di puncak," tulisnya. Ia menambahkan bahwa meskipun Ori sukses secara kritis, Xbox tidak pernah benar-benar menjadikannya sebagai pondasi untuk menjangkau segmen keluarga dan anak-anak—pasar yang justru dikuasai Nintendo dan Disney.
Dalam konteks industri game di Indonesia, kritik ini relevan mengingat pasar game Tanah Air terus tumbuh, terutama di segmen mobile dan keluarga. Banyak gamer Indonesia yang tumbuh dengan game Nintendo dan kini beralih ke platform lain. Jika Xbox gagal menghadirkan konten yang inklusif dan inovatif, peluang besar di Asia Tenggara bisa hilang. Sementara itu, pesaing seperti PlayStation dan Nintendo sudah lebih agresif menjangkau pasar Indonesia dengan game-game ramah keluarga dan dukungan bahasa lokal.
Mahler juga menyoroti potensi besar yang dimiliki Microsoft. "Microsoft masih memiliki katalog waralaba yang luar biasa. Potensinya masih sangat besar. Xbox seharusnya menjadi salah satu penerbit terkuat di dunia," ujarnya. Namun, ia memperingatkan bahwa nostalgia saja tidak cukup. "Nostalgia bisa membuat orang melirik, tapi setelah itu kamu harus memberikan produk yang benar-benar membuat gamer bergairah."
Gelombang PHK yang terjadi di Xbox, menurut Mahler, mungkin baru awal dari perubahan yang lebih besar. "Ini mungkin baru permulaan dari reset besar di industri," katanya. Ia memperkirakan bahwa realokasi sumber daya dan fokus ulang pada kreativitas bisa menjadi angin segar bagi industri game, meskipun dalam jangka pendek banyak pihak yang terdampak.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Xbox belajar dari kritik ini dan mulai berinvestasi pada ide-ide segar, atau justru semakin tenggelam dalam nostalgia? Jawabannya akan menentukan masa depan salah satu raksasa game dunia.



