NVIDIA RTX PRO 6000 Blackwell Melonjak 60%: Kartu Grafis Profesional Rp200 Jutaan
Baca dalam 60 detik
- Harga NVIDIA RTX PRO 6000 Blackwell naik dari US$8.000 menjadi US$13.250, kenaikan 60% sejak peluncuran.
- Kartu ini memiliki VRAM 96 GB GDDR7, tertinggi untuk GPU dedicated, mendorong harga melambung.
- Kenaikan harga juga memengaruhi pasar Indonesia, di mana GPU kelas atas bisa mencapai Rp300 juta.

Harga kartu grafis profesional NVIDIA kembali mencetak rekor baru. RTX PRO 6000 Blackwell, yang dirancang untuk beban kerja AI dan rendering kelas berat, kini dibanderol US$13.250 atau sekitar Rp207 juta. Angka ini melonjak 60% dari harga awal US$8.000, dan naik 30% hanya dalam sebulan terakhir.
Kenaikan ini bukan tanpa alasan. RTX PRO 6000 Blackwell dibekali 96 GB memori GDDR7, jumlah VRAM terbesar yang pernah ada pada sebuah kartu grafis dedicated. Memori sebesar itu memungkinkan pemrosesan dataset raksasa untuk pelatihan model AI, simulasi ilmiah, dan rendering 3D tanpa kompromi. Namun, kelangkaan pasokan dan permintaan tinggi dari pusat data serta perusahaan teknologi membuat harganya terus meroket.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di segmen profesional. Di pasar konsumen, RTX 5090โGPU flagship untuk gamingโkini dijual mulai US$4.199, lebih dari dua kali lipat harga peluncurannya yang US$1.999. Kenaikan harga di semua lini menunjukkan tekanan inflasi komponen yang melanda industri semikonduktor secara global.
Bagi Indonesia, lonjakan harga ini berdampak langsung pada sektor riset dan industri kreatif. Lembaga riset dan universitas yang mengandalkan GPU untuk komputasi AI harus merogoh kocek lebih dalam. Sementara itu, studio animasi dan VFX lokal yang menggunakan kartu grafis kelas atas terpaksa menunda upgrade atau beralih ke solusi cloud. Menurut analis pasar teknologi, tren ini diperkirakan berlanjut selama permintaan chip AI masih tinggi dan produksi belum pulih sepenuhnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah NVIDIA akan mampu menstabilkan harga dengan meningkatkan kapasitas produksi, atau justru akan muncul pesaing baru di segmen GPU profesional. AMD dan Intel belum menunjukkan tanda-tanda akan merilis produk dengan spesifikasi setara dalam waktu dekat. Sementara itu, konsumen dan pelaku industri di Indonesia harus bersiap dengan harga yang terus melambung.



