EA Bentuk Divisi Iklan Khusus, Siap Banjiri Gim dengan Sponsor
Baca dalam 60 detik
- Electronic Arts meluncurkan EA Advertising, divisi yang dirancang untuk mengintegrasikan iklan dinamis ke dalam gim seperti billboard virtual dan konten sponsor.
- Langkah ini berpotensi mengubah pengalaman bermain pemain, meskipun EA berjanji tidak akan mengganggu sesi permainan dan justru 'memperkaya' interaksi.
- Di Indonesia, kebijakan ini bisa memicu perdebatan baru soal monetisasi gim dan perlindungan konsumen di tengah maraknya gim gratis dengan iklan.

Electronic Arts (EA) resmi membentuk divisi baru bernama EA Advertising yang bertugas menjembatani kerja sama antara merek komersial dan penerbit untuk menanamkan iklan langsung ke dalam gim. Langkah ini diambil di tengah tekanan industri untuk mencari sumber pendapatan alternatif di luar penjualan gim dan langganan.
Divisi ini akan mengelola berbagai bentuk iklan dinamis, mulai dari papan reklame virtual di stadion gim olahraga EA Sports seperti FIFA dan Madden NFL, hingga konten sponsor yang lebih imersif seperti item kosmetik bertema merek, tantangan yang dipersonalisasi, dan acara satu kali yang dirancang khusus. EA juga menyebut kemungkinan adanya tayangan ulang bersponsor dan lapisan grafis dalam gim.
Dalam pernyataan resminya, EA menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk "memperkaya pengalaman pemain" dan tidak akan mengganggu sesi permainan. Namun, pengamat industri meragukan klaim tersebut, mengingat sejarah panjang resistensi pemain terhadap iklan dalam gim berbayar penuh. Sebagian besar gim EA, terutama seri olahraga, sudah dijual dengan harga penuh dan memiliki mode mikrotransaksi yang kontroversial.
Konteks Indonesia menjadi relevan karena pasar gim Tanah Air merupakan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Gim EA seperti FIFA (kini EA Sports FC) memiliki basis pemain setia di Indonesia, terutama di kalangan penggemar sepak bola. Jika iklan dinamis diterapkan tanpa transparansi, kekhawatiran akan munculnya praktik manipulatif—seperti iklan yang tidak bisa dilewati atau mengganggu alur permainan—bisa memicu reaksi negatif dari komunitas.
Regulator di Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, belum memiliki aturan spesifik mengenai iklan dalam gim. Namun, dengan maraknya gim gratis (free-to-play) yang mengandalkan iklan, langkah EA ini bisa menjadi preseden bagi penerbit lain untuk mengadopsi model serupa. Pengamat kebijakan digital menilai perlu ada batasan jelas agar iklan tidak mengeksploitasi pemain di bawah umur atau mengganggu pengalaman bermain yang adil.
EA sendiri belum merinci bagaimana sistem ini akan bekerja secara teknis, termasuk apakah pemain bisa memilih untuk tidak melihat iklan tertentu. Sebagai perbandingan, beberapa penerbit lain seperti Ubisoft telah mencoba model iklan dalam gim namun mendapat tentangan keras dari pemain. Keberhasilan EA Advertising akan sangat bergantung pada keseimbangan antara kepentingan komersial dan kenyamanan pengguna.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemain akan menerima iklan sebagai bagian normal dari gim premium, atau justru menjauh dari ekosistem EA. Dengan persaingan ketat dari gim-gim independen dan layanan langganan seperti Xbox Game Pass, keputusan EA ini bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan hati-hati.



