Inflasi Nigeria Diprediksi Kembali Meningkat: Harga Pangan dan Pelemahan Naira Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Tingkat inflasi tahunan Nigeria diperkirakan naik pada Mei 2026 akibat kenaikan harga pangan dan depresiasi naira, memperpanjang tren kenaikan dua bulan berturut-turut.
- Tekanan geopolitik global, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran, mendorong harga minyak dan bahan bakar domestik, yang berdampak langsung pada biaya transportasi dan logistik.
- Analis memperkirakan inflasi inti akan ikut meningkat, meskipun ada potensi moderasi bulanan seiring normalisasi parsial biaya distribusi.

Nigeria kembali menghadapi tekanan inflasi yang semakin berat. Badan statistik nasional diperkirakan akan mengumumkan laju inflasi Mei 2026 yang lebih tinggi, didorong oleh meroketnya harga pangan dan pelemahan nilai tukar naira. Kondisi ini menjadi ujian bagi daya beli masyarakat yang sudah tertekan oleh tingginya angka kemiskinan.
Data terakhir dari National Bureau of Statistics (NBS) menunjukkan inflasi tahunan April 2026 mencapai 15,69 persen, naik 31 basis poin dari bulan sebelumnya. Pemicu utamanya adalah inflasi pangan yang melonjak menjadi 16,06 persen, dari 14,31 persen pada Maret. Kenaikan harga beras, kacang-kacangan, ubi, dan garri menjadi kontributor utama, akibat terganggunya rantai pasok dan biaya transportasi yang tinggi.
Di sisi lain, inflasi inti justru sedikit melandai ke 15,86 persen dari 16,21 persen, berkat penurunan harga di sektor pendidikan, pakaian, dan kesehatan. Namun, para analis memperingatkan bahwa tren ini mungkin tidak bertahan lama seiring dengan terus melemahnya naira dan tingginya harga bahan bakar.
Menurut catatan Meristem Securities Limited, harga pangan pada Mei 2026 menunjukkan pergerakan yang beragam, tetapi dominan mengalami kenaikan. Jagung, sorgum, beras pecah kulit, dan kedelai mencatat kenaikan harga akibat mengetatnya pasokan menjelang panen. Satu-satunya komoditas yang turun adalah wijen, yang melemah 1,88 persen secara bulanan.
Depresiasi naira sebesar 0,55 persen terhadap dolar AS pada Meiโdari rata-rata N1.362,47 menjadi N1.370 per dolarโsemakin memperberat biaya impor bahan baku dan barang konsumsi. Meristem menilai pelemahan ini memperkuat tekanan inflasi impor, baik untuk komponen pangan maupun inti.
Konteks geopolitik turut memperparah situasi. Sejak Februari 2026, Iran menutup Selat Hormuz, menghambat lalu lintas kapal minyak dan mendorong harga minyak global naik. Meskipun Nigeria sebagai produsen minyak diuntungkan oleh harga tinggi, penghapusan subsidi bahan bakar justru membuat harga bensin di dalam negeri melonjak. Akibatnya, biaya transportasi dan distribusi pangan ikut terangkat.
โKami memperkirakan inflasi utama akan terus meningkat secara tahunan pada Mei 2026, didorong oleh tekanan dari sisi pangan dan inti,โ tulis analis Meristem dalam laporan mereka. Mereka menambahkan bahwa inflasi inti diperkirakan ikut naik karena harga bahan bakar yang tinggi, biaya transportasi yang membengkak, dan efek transmisi yang persisten.
Meski demikian, secara bulanan, tekanan inflasi mungkin sedikit mereda. Meristem melihat adanya potensi moderasi berkat melambatnya momentum kenaikan harga pangan, normalisasi parsial biaya distribusi seiring penurunan harga minyak, serta transmisi kenaikan biaya sebelumnya yang lebih lambat ke harga eceran. Namun, tingkat harga secara keseluruhan diperkirakan tetap kaku.
Bagi Indonesia, pengalaman Nigeria menjadi pengingat akan kerentanan negara berkembang terhadap guncangan eksternal. Kenaikan harga pangan dan energi, ditambah pelemahan mata uang, dapat memicu spiral inflasi yang sulit dikendalikan. Bank sentral Nigeria kemungkinan akan menghadapi dilema antara menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi atau menjaga pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya, seberapa jauh otoritas moneter Nigeria bersedia mengetatkan kebijakan di tengah tekanan sosial yang sudah tinggi?



