Meta Akui Salah Langkah dalam Transformasi AI: PHK Massal dan Restrukturisasi Besar-besaran
Baca dalam 60 detik
- CEO Meta Mark Zuckerberg mengakui kesalahan dalam perombakan tenaga kerja berbasis AI, termasuk PHK 10% karyawan global pada Mei lalu.
- Meta mengalokasikan belanja modal hingga $145 miliar untuk AI, namun struktur datar dengan rasio 50:1 memicu kekhawatiran beban kerja manajer.
- Perusahaan berencana meningkatkan anggaran kegiatan tim dan menggelar hackathon Juli demi kolaborasi, sembari mengurangi rentang kendali manajer.
Mark Zuckerberg, bos Meta Platforms, secara terbuka mengakui bahwa perusahaan telah membuat kesalahan dalam transformasi tenaga kerja yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI). Pengakuan itu disampaikan dalam memo internal yang bocor ke Reuters, di mana ia menyebut kompleksitas perubahan sebagai penyebab utama, seraya berjanji akan berusaha memberikan stabilitas lebih besar ke depannya.
Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, saat ini tengah membenamkan ratusan miliar dolar ke dalam AI untuk merombak cara kerja internalnya. Langkah ini mencerminkan tren serupa di antara perusahaan-perusahaan teknologi besar Amerika Serikat tahun ini. Namun, restrukturisasi yang dilakukan pada Mei laluโyang memangkas 10 persen tenaga kerja global dan memindahkan 7.000 karyawan ke inisiatif AIโtelah menimbulkan gejolak internal.
Dalam memo tersebut, Zuckerberg menekankan bahwa meskipun ada kesalahan, Meta tidak berencana melakukan PHK perusahaan secara luas lagi tahun ini. "Saya tidak ingin berjanji berlebihan karena dunia berubah dengan cara di luar kendali kami," tulisnya. Ia juga menyebut bahwa perusahaan akan berupaya mencari peran baru bagi karyawan yang dialihkan untuk melatih model AI, sebagai bentuk jaring pengaman jika ada kesalahan penempatan.
Salah satu titik kritis yang diakui Zuckerberg adalah meluasnya tanggung jawab pengawasan manajer. Unit Applied AI Engineering yang baru dibentuk menerapkan struktur datar dengan rasio hingga 50 kontributor individu per satu manajer. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan beban kerja berlebih dan efektivitas pengawasan. Zuckerberg berjanji akan mengurangi praktik tersebut.
Untuk memperbaiki moral dan kolaborasi, Meta berencana meningkatkan anggaran untuk kegiatan tim, termasuk offsite dan acara perusahaan. Pada Juli mendatang, perusahaan akan menggelar hackathon besar-besaran untuk mendorong pengembangan model AI terbaru lintas tim. Langkah ini diharapkan dapat mengimbangi dampak negatif dari restrukturisasi yang agresif.
Bagi Indonesia, transformasi AI Meta patut dicermati. Sebagai pasar dengan pengguna Facebook dan Instagram yang sangat besar, perubahan kebijakan tenaga kerja dan investasi AI Meta dapat mempengaruhi layanan yang dinikmati pengguna lokal. Misalnya, pengembangan model AI yang lebih canggih berpotensi meningkatkan personalisasi konten, namun juga menimbulkan kekhawatiran tentang privasi data dan moderasi konten. Selain itu, efisiensi operasional Meta bisa berdampak pada harga iklan digital yang menjadi andalan banyak pelaku usaha Indonesia.
Ke depan, tantangan terbesar Meta adalah menyeimbangkan ambisi AI dengan stabilitas organisasi. Zuckerberg mengakui bahwa kesalahan masih mungkin terjadi. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah perbaikan seperti peningkatan anggaran tim dan pengurangan rentang kendali manajer cukup untuk meredam gejolak internal? Atau justru Meta akan terus mengalami pergolakan seiring percepatan investasi AI?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260845/original/013183500_1781665170-Wapres_Gibran.jpg)