Gelombang PHK di Ubisoft: 380 Karyawan Terdampak, Dua Studio Tutup
Baca dalam 60 detik
- Ubisoft mengumumkan pemutusan hubungan kerja massal yang mempengaruhi 380 karyawan, dengan penutupan studio di Winnipeg dan Belgrade serta restrukturisasi di Barcelona.
- Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menyederhanakan operasi dan mengurangi biaya di tengah tekanan industri game global.
- Dampak bagi industri game Indonesia: potensi pergeseran alokasi sumber daya Ubisoft ke pasar Asia, termasuk kemungkinan pengembangan game dengan tema lokal.

Ubisoft kembali melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap tenaga kerjanya. Raksasa game asal Prancis itu mengonfirmasi bahwa hingga 380 karyawan akan terkena dampak dari gelombang PHK terbaru, termasuk penutupan dua studio pendukung di Winnipeg, Kanada, dan Belgrade, Serbia.
Menurut laporan Insider Gaming, langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi global yang bertujuan menyederhanakan operasi dan mengurangi basis biaya. Studio di Winnipeg dan Belgrade, yang berfungsi sebagai pusat dukungan, akan ditutup total, menyebabkan sekitar 165 karyawan kehilangan pekerjaan. Sementara itu, Ubisoft Barcelona juga akan mengalami restrukturisasi dengan pemangkasan 51 posisi, dan puluhan karyawan di divisi penerbitan San Francisco akan diberhentikan. Selain itu, sebanyak 120 orang yang sebelumnya bekerja pada proyek Rainbow Six Siege akan dipindahkan atau dihentikan kontraknya.
Dalam pesan internal yang dikutip, manajemen Ubisoft menyatakan bahwa keputusan sulit ini diambil setelah peninjauan portofolio dan penyesuaian tingkat aktivitas. Perusahaan menegaskan bahwa tim manajemen lokal akan berkomunikasi langsung dengan karyawan yang terdampak untuk memberikan dukungan selama proses transisi. Namun, langkah ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan proyek-proyek unggulan Ubisoft, termasuk seri Assassin's Creed dan Far Cry yang selama ini menjadi andalan.
Konteks industri game global menunjukkan bahwa gelombang PHK ini bukanlah yang pertama bagi Ubisoft. Sepanjang 2023, perusahaan telah beberapa kali melakukan pemangkasan karyawan sebagai respons terhadap perlambatan pertumbuhan pascapandemi. Tekanan dari investor untuk meningkatkan profitabilitas juga menjadi faktor pendorong. Di sisi lain, para analis menilai bahwa langkah ini bisa mengorbankan inovasi jangka panjang, terutama jika studio-studio kecil yang kreatif ditutup.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi tersendiri. Ubisoft selama ini menjadi salah satu pengembang game global yang cukup aktif di kawasan Asia Tenggara, termasuk melalui perilisan game dengan tema lokal seperti "Assassin's Creed Chronicles" yang mengambil latar Indonesia. Dengan restrukturisasi ini, ada kemungkinan Ubisoft akan lebih fokus pada pasar Asia untuk mengimbangi penurunan di pasar Barat. Namun, di sisi lain, PHK massal ini juga bisa berarti berkurangnya alokasi sumber daya untuk proyek-proyek regional. Komunitas game Indonesia perlu mencermati apakah Ubisoft akan tetap mempertahankan komitmennya terhadap pengembangan konten lokal di tengah efisiensi biaya.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: apakah langkah ini cukup untuk menyelamatkan Ubisoft dari krisis yang berkepanjangan, atau justru akan memperlemah daya saingnya di tengah dominasi pengembang game independen dan platform mobile? Dengan industri game yang terus berubah, keputusan Ubisoft akan menjadi studi kasus tentang bagaimana raksasa tradisional beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.



