Sindiran Tim Sweeney soal Kenaikan Harga Steam Deck: Antara Kritik dan Ironi
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga Steam Deck OLED hingga 20% memicu reaksi pedas dari CEO Epic Games, Tim Sweeney, yang menyindir pembelian superyacht oleh bos Valve.
- Sweeney mengecam kenaikan harga dengan alasan biaya komponen, namun warganet mengingatkan bahwa Epic justru melakukan PHK massal tahun lalu.
- Persaingan antara Epic Games Store dan Steam kembali memanas, dengan isu kesejahteraan karyawan menjadi sorotan di tengah gejolak industri game.

Kenaikan harga Steam Deck OLED yang mencapai 20 persen pekan ini tak hanya membuat para gamer kecewa, tetapi juga memicu reaksi sinis dari bos Epic Games, Tim Sweeney. Dalam unggahan di platform X, Sweeney melontarkan sindiran tajam yang secara tidak langsung menyasar Gabe Newell, CEO Valve, pemilik toko game digital terbesar di dunia.
Steam Deck OLED kini dibanderol mulai 779 euro untuk varian 512 GB dan 919 euro untuk model 1 TB. Valve beralasan kenaikan ini disebabkan oleh melonjaknya harga komponen memori dan penyimpanan. Namun, Sweeney menilai alasan itu tidak masuk akal mengingat pendapatan Valve yang luar biasa besar dari platform Steam—diperkirakan mencapai lebih dari 10 miliar dolar AS per tahun.
"Semua orang terlalu keras. Ada kenaikan signifikan biaya komponen yang pada akhirnya dibiayai oleh uang pelanggan Steam, dan tren ekonomi telah menciptakan gangguan parah pada rantai pasok komponen untuk megayacht," tulis Sweeney dengan nada ironis. Kalimat itu merujuk pada pembelian superyacht seharga 500 juta dolar AS oleh Gabe Newell tahun lalu.
Meskipun sindiran Sweeney mendapat dukungan dari sebagian gamer yang kecewa, banyak warganet justru mengingatkan bahwa Epic Games sendiri tidak bersih dari masalah. Akun @verymidengineer misalnya, menimpali, "Hei Tim, kapan terakhir kali Valve melakukan PHK? Oh ya, tidak pernah?" Pernyataan itu merujuk pada gelombang PHK yang dilakukan Epic Games pada Maret 2025, yang memecat lebih dari 1.000 karyawan.
Persaingan antara Epic Games Store dan Steam memang sudah berlangsung lama. Epic kerap mengkritik kebijakan Valve, terutama soal potongan pendapatan 30 persen yang dianggap terlalu besar. Namun, langkah Sweeney kali ini dianggap sebagian pengamat sebagai strategi untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal Epic. Di sisi lain, Valve memang dikenal jarang melakukan PHK besar-besaran dan memiliki struktur perusahaan yang lebih ramping.
Bagi industri game global, insiden ini menyoroti ketimpangan antara retorika perusahaan dan praktik bisnis. Di Indonesia, di mana pasar game terus tumbuh, persaingan antara platform distribusi digital juga semakin ketat. Para gamer Tanah Air kerap dihadapkan pada pilihan antara Steam yang sudah mapan dan Epic Games Store yang menawarkan game gratis secara berkala. Namun, isu etika bisnis dan kesejahteraan karyawan mulai menjadi pertimbangan di kalangan komunitas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Valve akan merespon kritik ini dengan kebijakan yang lebih ramah konsumen, atau justru mengabaikannya. Sementara Epic harus membuktikan bahwa kritiknya terhadap kompetitor tidak sekadar retorika di tengah masalah internal yang masih membara.



