GTA 6 Akan Laris Meski Harga Naik? Bos Take-Two Yakin Pembeli Tak Peduli Inflasi
Baca dalam 60 detik
- CEO Take-Two Strauss Zelnick mengakui tekanan ekonomi masyarakat, namun yakin GTA 6 tetap akan diburu karena kualitasnya yang luar biasa.
- Harga game AAA saat ini stagnan di $70, sementara inflasi membuat harga riil game justru lebih murah dibanding 30 tahun lalu.
- Analis Bank of America mendorong harga $80 untuk GTA 6 demi keberlanjutan industri, dan data menunjukkan konsumen siap menerima kenaikan.

Di tengah lonjakan harga bahan bakar, kebutuhan pokok, dan sewa rumah, bos Take-Two Interactive, Strauss Zelnick, dengan percaya diri menyatakan bahwa Grand Theft Auto VI (GTA 6) tetap akan menjadi primadona yang diburu para gamer. Dalam wawancara dengan IGN, Zelnick mengakui bahwa banyak konsumen saat ini menghadapi kesulitan ekonomi, namun ia menilai daya tarik GTA 6 akan mengalahkan pertimbangan finansial.
“Jika Anda memberikan apa yang diinginkan orang di bisnis hiburan, mereka akan datang,” ujar Zelnick, merespons kekhawatiran bahwa harga game yang lebih tinggi bisa mengurangi minat beli. Pernyataan ini muncul di saat spekulasi harga GTA 6—yang diperkirakan melesat hingga $80 atau lebih—masih menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat industri.
Zelnick juga mengulangi argumen lamanya bahwa harga game sebenarnya telah menurun secara riil dalam tiga dekade terakhir. Sebagai contoh, GTA 5 yang dirilis tahun 2013 seharga $60 setara dengan sekitar $85 jika disesuaikan dengan inflasi saat ini. Sementara itu, harga standar game AAA modern masih bertahan di $70, tidak pernah naik seiring inflasi tahunan. Kondisi ini, menurut Zelnick, justru mendorong penerbit untuk mencari sumber pendapatan alternatif seperti mikrotransaksi yang kerap tidak disukai pemain.
Seorang analis dari Bank of America bahkan mendorong Rockstar untuk membanderol GTA 6 sebesar $80, dengan harapan dapat mendorong penerbit lain menaikkan harga demi keberlanjutan industri. Meskipun kenaikan harga selalu menuai resistensi—apalagi jika upah tidak tumbuh seiring inflasi—data menunjukkan konsumen sebenarnya sudah siap menerima game seharga $80. Zelnick sendiri menekankan bahwa Rockstar fokus menciptakan pengalaman yang jauh melampaui nilai yang dibayar konsumen, sehingga mereka merasa antusias membeli produknya.
Bagi gamer Indonesia, situasi ini memiliki implikasi tersendiri. Dengan nilai tukar rupiah yang terus tertekan, harga $80 bisa melonjak hingga lebih dari Rp1,2 juta jika ditambah pajak dan biaya distribusi. Belum lagi kebutuhan akan konsol generasi terbaru—PS5 atau Xbox Series X|S—yang harganya juga sudah naik. Xbox Series S yang termurah dibanderol $400 (sekitar Rp6,4 juta), sementara PS5 digital edition menyentuh $600 (Rp9,6 juta). Kombinasi harga konsol dan game yang mahal berpotensi memperlebar kesenjangan akses bagi pemain di negara berkembang.
GTA 6 sendiri dijadwalkan meluncur pada 19 November 2026, setelah mengalami penundaan dari rencana awal 26 Mei 2026. Rockstar beralasan waktu tambahan diperlukan untuk memastikan kualitas game sesuai standar tinggi yang diharapkan. Dengan keyakinan Zelnick bahwa konsumen akan tetap membeli apa pun harganya, pertanyaan besarnya adalah: akankah gamer Indonesia rela merogoh kocek lebih dalam untuk sekadar bisa berpetualang di Vice City versi terbaru? Atau justru kenaikan harga ini akan memicu peralihan ke platform alternatif seperti PC atau layanan berlangganan?



