Paus Leo XIV Serukan Etika AI: Teknologi Harus Tunduk pada Martabat Manusia
Baca dalam 60 detik
- Paus Leo XIV merilis ensiklik pertama bertajuk Magnifica Humanitas yang menempatkan kecerdasan buatan sebagai tantangan moral utama era modern.
- Dokumen ini mengkritik konsentrasi kekuasaan teknologi dan penggunaan AI dalam perang, serta menyerukan kerangka etika yang ketat.
- Ensiklik ini sengaja dirujuk pada Rerum Novarum (1891) untuk memberikan panduan moral di tengah revolusi AI, mirip dengan respons terhadap Revolusi Industri.

Vatikan, 26 Mei 2026 – Paus Leo XIV secara resmi menyatakan kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu tantangan moral paling menentukan di abad ini. Pernyataan tersebut tertuang dalam ensiklik perdananya, Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung), sebuah dokumen resmi Gereja Katolik yang ditujukan untuk membimbing pemikiran moral, sosial, dan teologis. Dalam dokumen sepanjang sekitar 42.300 kata itu, Paus menekankan bahwa teknologi harus melayani kemanusiaan, bukan justru memusatkan kekuasaan atau melemahkan martabat manusia.
Ensiklik tersebut dipresentasikan di Vatikan dengan menghadirkan Christopher Olah, salah satu pendiri Anthropic, pengembang AI terkemuka. Olah mengakui bahwa perusahaan seperti miliknya membutuhkan bimbingan moral untuk melindungi dari “insentif dan kendala yang terkadang bertentangan dengan melakukan hal yang benar,” seperti dilaporkan The New York Times. Kehadiran figur industri AI dalam acara peluncuran ini menandakan keseriusan Vatikan dalam menjembatani teknologi dan etika.
• Menyoroti bahwa AI tidak pernah netral, melainkan mencerminkan karakter pencipta, pembiaya, pengatur, dan penggunanya.
• Mengecam penggunaan AI dalam peperangan dan menuntut “kendala etis paling ketat” pada senjata otonom.
• Menolak gagasan transhumanis yang berupaya mengatasi keterbatasan manusia secara teknologi; kerentanan dan ketergantungan justru dipandang esensial bagi kemanusiaan.
Paus Leo XIV secara eksplisit merujuk pada pendahulunya, Paus Leo XIII, yang pada 1891 mengeluarkan ensiklik Rerum Novarum sebagai respons terhadap Revolusi Industri. Meskipun Magnifica Humanitas dirilis pada 25 Mei 2026, dokumen itu secara simbolis diberi tanggal 15 Mei, tanggal yang sama dengan Rerum Novarum. Langkah ini menunjukkan kesinambungan ajaran sosial Gereja dalam menghadapi perubahan zaman. Ensiklik Rerum Novarum sendiri pernah memengaruhi kebijakan upah layak di Australia pada 1907 melalui Hakim H.B. Higgins.
Dalam dokumennya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa hak asasi manusia tidak diberikan oleh pemerintah atau korporasi, melainkan berasal dari martabat intrinsik setiap pribadi. Teknologi, menurutnya, harus melayani manusia, bukan mereduksi mereka menjadi data, unit ekonomi, atau masalah optimasi. Ia juga membangun kritik Paus Fransiskus dalam ensiklik 2015 tentang “kecenderungan membiarkan logika efisiensi, kontrol, dan keuntungan semata membentuk keputusan pribadi, sosial, dan ekonomi.”
Lebih jauh, ensiklik ini menolak gagasan bahwa tanggung jawab moral dapat dialihkan ke sistem otomatis, betapa pun canggihnya sistem tersebut. Paus juga mengkritik konsentrasi kekuasaan teknologi yang makin timpang, serta sistem yang memperlakukan manusia sekadar sebagai fungsi ekonomi. Sebagai gantinya, ia mempromosikan apa yang disebutnya “peradaban cinta” yang berpusat pada martabat manusia, solidaritas, kebenaran, dan kebaikan bersama.
Meskipun Vatikan tidak memiliki kewenangan langsung untuk mengatur AI—tidak bisa menulis standar keamanan, mengawasi pusat data, atau memaksa perusahaan mengungkap cara kerja sistem mereka—ensiklik ini memiliki bobot moral yang besar. Jaringan global Gereja Katolik yang mencakup sekolah, universitas, lembaga amal, rumah sakit, dan organisasi komunitas dapat menjadi saluran penyebaran nilai-nilai etis tersebut.
Paus Leo XIV mengingatkan bahwa pertanyaan sentral bukanlah apakah AI akan menjadi kuat—ia sudah kuat. Pertanyaannya adalah apakah kekuatan itu akan dipertanggungjawabkan pada martabat manusia. Masa depan AI tidak hanya ditentukan di laboratorium, ruang rapat, atau parlemen, tetapi juga oleh batas moral yang bersedia ditetapkan masyarakat. Ensiklik ini adalah upaya untuk menggambar batas-batas itu.

