Tunisia Penjarakan Pengkritik Presiden: Hukuman Baru untuk Dahmani
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan mengabaikan prosedur perlindungan standar, mempercepat vonis dalam sidang tertutup tanpa menghadirkan saksi kunci pembela.
- Pola ini mencerminkan perlakuan terhadap puluhan tokoh oposisi, jurnalis, dan pembela hak asasi manusia lainnya sejak perebutan kekuasaan Saied pada 2021.
- Putusan ini menyusul gelombang penangkapan yang menargetkan masyarakat sipil, termasuk penahanan para pemimpin partai Ennahda dan penutupan media kritis.

Hukuman penjara baru bagi Dahmani bermula dari unggahan media sosial yang mengkritik konsolidasi kekuasaan presiden, tuduhan yang oleh para pendukungnya disebut bermotif politik. Pengadilan mengabaikan prosedur perlindungan standar, mempercepat vonis dalam sidang tertutup tanpa menghadirkan saksi kunci pembela. Pola ini mencerminkan perlakuan terhadap puluhan tokoh oposisi, jurnalis, dan pembela hak asasi manusia lainnya sejak perebutan kekuasaan Saied pada 2021.
Putusan ini menyusul gelombang penangkapan yang menargetkan masyarakat sipil, termasuk penahanan para pemimpin partai Ennahda dan penutupan media kritis. Peradilan Tunisia, yang pernah dipuji sebagai lembaga peradilan paling independen di era Musim Semi Arab, kini beroperasi sebagai instrumen represi politik. Pengamat internasional memperingatkan bahwa negara ini sedang meluncur menuju otokrasi, dengan independensi peradilan sebagai korban terbaru.
Pemerintah Saied membela tindakan keras ini sebagai langkah yang diperlukan untuk memerangi 'terorisme' dan 'campur tangan asing', namun bukti menunjukkan adanya penindasan sistematis terhadap perbedaan pendapat yang sah. Referendum konstitusi tahun 2022 yang digagas presiden memusatkan kekuasaan eksekutif, menghilangkan mekanisme checks and balances yang sebelumnya membatasi wewenang presiden. Tanpa tekanan internasional yang berarti, erosi demokrasi Tunisia akan semakin cepat, yang akan memperkuat tindakan represif lebih lanjut.
Langkah Kekuasaan: Rezim Saied mempersenjatai peradilan untuk melenyapkan saingan politik dan membungkam kritik. Perkirakan akan lebih banyak persidangan sandiwara terhadap tokoh oposisi seiring Tunisia menyelesaikan transisinya dari demokrasi menuju kekuasaan otoriter. Jendela peluang bagi intervensi internasional semakin menutup dengan cepat.
Artikel ini disunting dengan bantuan AI untuk keterbacaan. Baca disini (link asli).



