Apakah SOC Sudah Usang? Refleksi di Tengah Evolusi Ancaman Siber
Baca dalam 60 detik
- Model Security Operations Center (SOC) tradisional mulai dipertanyakan efektivitasnya akibat volume alarm palsu yang tinggi dan kurangnya otomatisasi.
- Kritik utama menyoroti bahwa SOC sering kali reaktif, sementara ancaman siber modern membutuhkan pendekatan proaktif berbasis threat intelligence.
- Perdebatan ini mendorong industri untuk mengevaluasi ulang arsitektur keamanan, dengan potensi pergeseran ke model fusion center atau layanan MDR yang lebih terkelola.

Diskusi mengenai relevansi Security Operations Center (SOC) di era digital kian memanas. Banyak praktisi keamanan siber mulai mempertanyakan apakah model SOC yang selama ini diandalkan masih efektif menghadapi lanskap ancaman yang terus berevolusi, atau justru sudah menjadi beban operasional tanpa hasil signifikan.
Kritik utama terhadap SOC konvensional adalah pendekatannya yang terlalu reaktif. Tim SOC sering dibanjiri ribuan peringatan setiap hari, mayoritas merupakan false positive yang menguras sumber daya. Akibatnya, analis kelelahan (alert fatigue) dan kerap melewatkan indikator serangan nyata. Ironisnya, infrastruktur yang mahal ini justru gagal memberikan deteksi dini yang dijanjikan.
Sebagian pakar menilai bahwa akar masalahnya bukan pada konsep SOC itu sendiri, melainkan pada implementasi yang kaku. Banyak organisasi masih mengandalkan aturan statis dan signature-based detection, sementara penyerang kini menggunakan teknik canggih seperti fileless malware dan living-off-the-land. Di sinilah urgensi untuk mengadopsi teknologi seperti User and Entity Behavior Analytics (UEBA) dan Extended Detection and Response (XDR) menjadi krusial.
Alternatif yang mulai dilirik adalah model Managed Detection and Response (MDR) yang menggabungkan teknologi, keahlian manusia, dan threat intelligence secara terpadu. Layanan ini menawarkan respons yang lebih cepat dan konteks yang lebih kaya dibandingkan SOC tradisional. Selain itu, konsep fusion center yang mengintegrasikan keamanan fisik dan siber juga dinilai lebih adaptif.
Namun, bukan berarti SOC harus ditinggalkan sepenuhnya. Transformasi menjadi kebutuhan mendesak: otomatisasi playbook, pemanfaatan AI untuk triase peringatan, serta kolaborasi erat dengan tim threat hunting. Tanpa perubahan ini, SOC berisiko menjadi sekadar pusat biaya yang tidak memberikan nilai tambah bagi pertahanan organisasi.
โSOC bukan lagi sekadar pusat pemantauan, melainkan harus menjadi pusat intelijen yang mampu memprediksi dan mencegah serangan sebelum terjadi,โ ujar seorang analis keamanan senior.
Ke depan, industri keamanan siber perlu berani mempertanyakan dogma yang sudah mapan. Alih-alih mempertahankan struktur lama, organisasi harus fokus pada hasil deteksi dan respons yang terukur. Jika SOC tidak mampu beradaptasi, bukan tidak mungkin model ini akan digantikan oleh pendekatan yang lebih gesit dan berbasis risiko.



