Tom Bischof Bicara Final DFB-Pokal, Adaptasi di Bayern, dan Pelajaran dari Para Senior
Baca dalam 60 detik
- Gelandang muda Bayern Munich, Tom Bischof, mengaku tetap tenang menjelang final DFB-Pokal kontra Stuttgart dan menganggapnya sebagai laga biasa hingga mendekati hari pertandingan.
- Bischof mengungkapkan bahwa perannya sebagai bek sayap merupakan kejutan karena ia awalnya direkrut sebagai gelandang bertahan, namun cedera pemain lain membuka peluang baginya.
- Ia menilai pengalaman berlatih melawan pemain seperti Michael Olise dan Joshua Kimmich menjadi kunci perkembangannya, serta mengakui ikatan kuat dengan rekan setim muda Lennart Karl.

Gelandang muda Bayern Munich, Tom Bischof (20), memberikan pandangannya menjelang final DFB-Pokal melawan VfB Stuttgart serta mengevaluasi musim perdananya bersama raksasa Bundesliga tersebut. Dalam wawancara eksklusif, ia membahas adaptasi posisi, dinamika tim, dan target meraih gelar ganda.
Menjelang laga puncak yang akan digelar akhir pekan ini, Bischof mengaku tidak ingin terbebani secara berlebihan. Ia menekankan pentingnya fokus pada rutinitas latihan dan tidak memikirkan pertandingan terlalu dini. “Saya rasa euforia akan datang dengan sendirinya saat hari pertandingan semakin dekat. Sekarang, ini hanya minggu biasa. Kami harus menjalankan dasar-dasar dengan baik hingga akhir pekan,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa Stuttgart adalah lawan tangguh yang tenang dalam penguasaan bola dan pandai memilih momen untuk menusuk.
Bischof juga merefleksikan momen pertamanya mengangkat trofi Bundesliga. Ia terkejut dengan bobot piala tersebut saat harus memegangnya di balkon Marienplatz. “Saya tidak menyangka seberat itu. Pelatih memberikannya kepada saya saat bernyanyi, dan setelah semenit saya mencoba memberikannya ke pemain lain,” kenangnya. Selain itu, ia mengaku senang bisa belajar dua posisi baru—bek kiri dan kanan—yang tidak lazim di klub lain. “Bek sayap di sini lebih seperti gelandang serang saat menguasai bola. Saya tetap bisa terlibat dalam serangan dan melepaskan tembakan. Ini cocok dengan gaya bermain saya,” tambahnya.
Adaptasi Bischof di Bayern berjalan lebih mulus dari perkiraannya. Meski sempat ragu, ia mengaku klub membantunya berintegrasi dengan cepat. Setelah operasi usus buntu, ia merasa semakin diterima dan mulai menunjukkan kemampuan. Ia juga memuji hubungannya dengan sesama pemain muda, Lennart Karl, yang dimulai karena kepribadian terbuka dan semangat kompetitif yang sama. “Kami berdua sedikit gila, itu membantu,” candanya.
Berlatih bersama pemain bintang seperti Michael Olise dan Joshua Kimmich menjadi pengalaman berharga. Bischof mengakui bahwa ia kerap belajar dari Kimmich karena gaya bermain yang mirip, sementara duel dengan Olise di sesi latihan menjadi ujian sesungguhnya. “Tidak ada pemain sayap kanan yang lebih baik saat ini, bahkan mungkin di dunia. Jika Anda bisa bertahan melawan Michael, Anda tahu Anda bisa menghadapi siapa pun,” tegasnya.
Di luar lapangan, Bischof mengaku gemar bermain kartu Uno bersama rekan setim. Ia menyebut Aleksandar Pavlović sebagai lawan terkuat, sementara Lennart Karl justru kurang mahir. “Kami sering bertarung untuk meraih kemenangan,” pungkasnya.
Dengan final DFB-Pokal di depan mata, Bischof optimistis namun tetap rendah hati. Ia menyadari bahwa Stuttgart layak berada di partai puncak dan pertandingan tidak akan mudah. Namun, semangat juang dan pengalaman berharga di musim perdananya menjadi modal penting bagi masa depannya bersama Bayern Munich.



