Trauma Pasca-Konvoi, Pemain Persib Absen dari Syukuran Hattrick Juara Liga 1
Baca dalam 60 detik
- Perayaan hattrick juara Liga 1 Persib Bandung terusik akibat insiden konvoi yang menyebabkan trauma psikologis pada pemain.
- Manajer Umuh Muchtar memutuskan membatalkan kehadiran pemain di acara syukuran demi menjaga kondisi mental skuad.
- Insiden kehilangan ponsel dan luka fisik akibat kerumunan massa menjadi pemicu utama kekhawatiran para pemain.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6823194/original/049215400_1779612026-5.jpg)
Perayaan hattrick juara Liga 1 yang diraih Persib Bandung tidak berjalan mulus. Skuad Maung Bandung batal menghadiri acara syukuran yang digelar di kediaman manajer Umuh Muchtar setelah para pemain dilaporkan masih mengalami trauma pasca-konvoi gelar juara beberapa hari sebelumnya di Bandung.
Umuh Muchtar mengungkapkan bahwa rencana awal acara syukuran sederhana: para pemain makan bersama di kediamannya, lalu langsung menuju lapangan. Namun, rencana itu urung terlaksana setelah kondisi psikologis pemain menjadi pertimbangan utama. Pengalaman buruk saat konvoi rupanya meninggalkan bekas mendalam bagi sebagian besar anggota skuad.
Umuh menyaksikan langsung dampak kejadian tersebut terhadap para pemainnya. Sejumlah pemain dilaporkan mengalami luka fisik, kehilangan barang berharga, hingga ketakutan yang belum pulih saat acara syukuran digelar. Demi menghormati kondisi mereka, Umuh memilih tidak memaksakan kehadiran. Ia mengikuti apa yang terbaik bagi skuadnya, meski acara syukuran harus berlangsung tanpa kehadiran penuh para pemain.
Umuh membeberkan sejumlah insiden selama konvoi. "Ada yang kehilangan hp, ada yang banyak luka. Saya lihat sendiri, ada yang di jengkol begini, ada ibu-ibu atau perempuan yang memegang-megang sampai berdarah, ada yang kena cakaran-cakaran. Nah ini yang salah," ujar Umuh. Ia menegaskan bahwa antusiasme pendukung sejatinya bisa dipahami, namun situasi yang tidak terkendali itulah yang menjadi masalah. Akibatnya, para pemain merasa tidak aman dan memilih tidak hadir ke acara yang sudah dipersiapkan.
"Jadi mereka ketakutan. Padahal sepertinya di sini bisa aman, tapi saya ikuti saja apa yang terbaik buat mereka. Jadi setelah makan mereka kembali, tidak bisa mengikuti ke sini karena trauma dengan kejadian kemarin," kata Umuh.
Kejadian ini menyoroti pentingnya pengelolaan keamanan dalam perayaan publik. Antusiasme suporter memang wajar, namun tanpa koordinasi yang matang, risiko terhadap keselamatan pemain dan penggemar bisa meningkat. Ke depan, manajemen Persib diharapkan dapat merancang protokol perayaan yang lebih aman untuk menghindari insiden serupa.



