Menguak Mitos dan Fakta Seputar Kanker Paru: Dari Perokok hingga Polusi Udara
Baca dalam 60 detik
- Kanker paru tidak hanya menyerang perokok; sekitar 10β20% pasien di AS tidak pernah merokok, dengan faktor risiko seperti paparan asap rokok pasif dan gas radon.
- Deteksi dini melalui low-dose CT scan pada populasi berisiko tinggi mampu menurunkan angka kematian lebih dari 20%, dan tingkat kesembuhan pada stadium awal mencapai 60%.
- Berhenti merokok kapan pun tetap memberikan manfaat signifikan, termasuk prognosis yang lebih baik bagi penderita kanker paru yang sudah didiagnosis.

Kanker paru masih menjadi salah satu penyakit mematikan dengan angka kejadian tinggi di dunia. Data CDC mencatat 218.520 kasus baru di AS pada 2018, sementara secara global pada 2020 terdapat 2,21 juta kasus dengan 1,8 juta kematian. Namun, di balik angka-angka tersebut, masih banyak miskonsepsi yang beredar di masyarakat. Dr. Fred R. Hirsch, pakar onkologi toraks dari Mount Sinai, New York, mengupas tuntas berbagai mitos yang kerap menyesatkan.
Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa kanker paru hanya menyerang perokok. Faktanya, CDC menyebutkan 10β20% penderita kanker paru di AS tidak pernah merokok atau merokok kurang dari 100 batang seumur hidup. Setiap tahun, sekitar 7.300 kematian akibat kanker paru pada nonperokok disebabkan oleh paparan asap rokok pasif, dan 2.900 lainnya akibat radon. Dr. Hirsch menegaskan bahwa mitos ini tidak hanya keliru, tetapi juga menimbulkan stigma yang merugikan pasien.
Banyak pula yang percaya bahwa polusi udara lebih berbahaya daripada rokok. Dr. Hirsch menjelaskan bahwa polusi dari lalu lintas memang terbukti meningkatkan risiko kanker paru, terutama melalui paparan nitrogen dioksida dan partikel halus. Namun, belum ada penelitian yang membandingkan secara langsung tingkat bahayanya dengan rokok. Yang jelas, kombinasi keduanya justru memperburuk risiko. Selain itu, faktor risiko lain seperti radon, riwayat keluarga, dan penyakit paru kronis juga turut berperan.
Mitos lain yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa berhenti merokok tidak ada gunanya setelah bertahun-tahun. Dr. Hirsch menegaskan bahwa berhenti merokok kapan pun tetap memberikan manfaat besar, termasuk menurunkan risiko kanker paru secara signifikan. Bahkan, bagi mereka yang sudah terdiagnosis kanker paru, berhenti merokok dikaitkan dengan prognosis yang lebih baik. Operasi pada stadium awal pun dapat menyembuhkan kanker, dan terapi adjuvan seperti kemoterapi atau imunoterapi sebelum operasi mampu mengurangi risiko penyebaran sel kanker.
βTidak masalah berapa usia Anda atau sudah berapa lama Anda merokok, berhenti merokok kapan pun akan meningkatkan kesehatan Anda,β ujar Dr. Hirsch, mengutip National Institute on Aging.
Mengenai penggunaan ganja, Dr. Hirsch menyebutnya sebagai faktor risiko potensial, namun bukti epidemiologis masih terbatas dan bertentangan. Sulitnya memisahkan efek ganja dari tembakau yang sering dikonsumsi bersamaan menjadi tantangan tersendiri. Sementara itu, mitos bahwa bedak talcum menyebabkan kanker paru tidak terbukti secara ilmiah; penelitian hanya menunjukkan sedikit peningkatan risiko pada pekerja tambang talcum, yang mungkin terkait dengan paparan radon di lingkungan kerja.
Terakhir, banyak orang mengira kanker paru selalu menunjukkan gejala awal yang jelas. Kenyataannya, kanker paru bisa terdeteksi pada individu tanpa gejala atau dengan gejala ringan. Inilah mengapa skrining pada populasi berisiko tinggi sangat krusial. Dr. Hirsch optimistis bahwa deteksi dini memberikan tingkat kesembuhan lebih dari 60%, dan kemajuan terapi targeted untuk mutasi genetik spesifik telah meningkatkan harapan hidup pasien stadium lanjut secara dramatis dalam satu dekade terakhir.



