Quantic Dream PHK 95 Karyawan Setelah Gagal Total di Game MOBA Spellcasters Chronicles
Baca dalam 60 detik
- Studio pengembang asal Prancis, Quantic Dream, menghentikan pengembangan dan akan menutup server Spellcasters Chronicles pada 19 Juni setelah game tersebut gagal menarik pemain.
- Rencana restrukturisasi perusahaan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja terhadap 95 orang, setara seperempat total tenaga kerja studio.
- Serikat pekerja STJV menuding manajemen puncak, termasuk David Cage, melakukan kesalahan fatal dalam pengelolaan proyek yang berujung pada bencana produksi.

Quantic Dream, studio pengembang game asal Prancis yang dikenal lewat judul-judul naratif seperti Detroit: Become Human, tengah menghadapi masa sulit. Perusahaan secara resmi mengakui kegagalan proyek terbarunya, Spellcasters Chronicles, sebuah game bergenre MOBA yang dirilis pada Februari lalu. Pengembangan game tersebut telah dihentikan, dan server akan ditutup permanen pada 19 Juni mendatang.
Keputusan ini memicu gelombang PHK besar-besaran. Serikat Pekerja Video Game (STJV) mengonfirmasi bahwa rencana restrukturisasi tengah berjalan dan akan menghilangkan 95 posisi, atau sekitar seperempat dari total karyawan Quantic Dream. Langkah ini menjadi pukulan telak bagi industri game Prancis yang selama ini menjadi salah satu pusat kreativitas global.
STJV secara terbuka mengkritik manajemen puncak studio, termasuk Guillaume de Fondaumière, David Cage, dan Grégorie Diaconu, atas keputusan strategis yang dinilai buruk. Dalam pernyataannya, serikat pekerja menyebut bahwa "manajemen proyek yang buruk menyebabkan iterasi berulang-ulang, menguras tim, dan mengarahkan produksi langsung menuju bencana". Lebih lanjut, perwakilan karyawan dilaporkan telah berulang kali memperingatkan para eksekutif mengenai risiko besar yang dihadapi Spellcasters Chronicles, namun peringatan tersebut diabaikan.
Kegagalan Spellcasters Chronicles menjadi studi kasus tentang bagaimana ekspansi ke genre yang tidak dikuasai dapat berakibat fatal. Quantic Dream, yang sebelumnya sukses dengan game petualangan naratif, mencoba merambah ke pasar MOBA yang sangat kompetitif—dikuasai oleh raksasa seperti League of Legends dan Dota 2. Tanpa pengalaman dan pemahaman yang memadai tentang dinamika genre tersebut, proyek ini sejak awal sudah berada di jalur yang salah.
Dampak PHK ini tidak hanya dirasakan oleh para karyawan yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga mencoreng reputasi Quantic Dream sebagai tempat kerja yang stabil. Industri game global tengah mengalami gelombang PHK massal, dan kasus ini menambah daftar panjang studio yang harus memangkas tenaga kerja akibat kegagalan proyek atau perubahan strategi bisnis.
Ke depan, Quantic Dream perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap proses pengambilan keputusan manajemen. Jika tidak, kepercayaan dari talenta kreatif dan investor akan semakin terkikis. Pertanyaan besar yang tersisa adalah apakah studio ini mampu bangkit kembali atau justru akan menjadi korban lain dari ambisi yang tidak terkendali.



