Panduan Pemeriksaan Payudara Sendiri: Langkah Deteksi Dini yang Perlu Diketahui
Baca dalam 60 detik
- American Cancer Society tidak lagi merekomendasikan pemeriksaan payudara sendiri rutin karena risiko hasil palsu, namun kesadaran akan kondisi normal payudara tetap penting.
- Pemeriksaan mandiri dapat dilakukan dalam tiga posisi: di depan cermin, berdiri, dan berbaring, untuk mendeteksi perubahan sejak dini.
- Perubahan pada payudara, puting, atau kelenjar getah bening di ketiak perlu segera dikonsultasikan ke dokter, meski tidak semua benjolan bersifat kanker.

Meskipun American Cancer Society (ACS) tidak lagi menganjurkan pemeriksaan payudara sendiri (breast self-exam) sebagai bagian dari skrining rutin, kesadaran akan kondisi normal payudara—yang disebut breast self-awareness—tetap menjadi elemen penting dalam deteksi dini. Organisasi seperti American College of Obstetricians and Gynecologists mendorong setiap individu untuk mengenali karakteristik payudara mereka agar mampu mengidentifikasi perubahan yang mencurigakan.
National Breast Cancer Foundation merekomendasikan tiga metode pemeriksaan mandiri yang efektif: pemeriksaan visual di depan cermin, pemeriksaan berdiri (sering dilakukan saat mandi), dan pemeriksaan berbaring. Masing-masing posisi memberikan sudut pandang berbeda untuk mengevaluasi tekstur, bentuk, dan simetri payudara.
Dalam pemeriksaan visual, perhatikan perubahan ukuran, kontur, atau warna kulit seperti kemerahan, lesung pipit, atau kerutan. Ulangi dengan lengan di atas kepala dan tubuh sedikit membungkuk ke depan. Untuk palpasi, gunakan gerakan melingkar dengan tekanan ringan, sedang, dan kuat, mencakup seluruh area payudara hingga ke ketiak.
Perubahan yang patut diwaspadai meliputi benjolan baru, pembengkakan, nyeri yang tidak biasa, atau perubahan pada puting seperti retraksi, keluar cairan, atau ruam. Kelenjar getah bening di ketiak yang membengkak juga bisa menjadi indikasi awal, meskipun pembengkakan dapat disebabkan oleh infeksi atau vaksinasi, misalnya vaksin COVID-19.
“Jika seseorang memiliki kekhawatiran tentang kemungkinan gejala kanker payudara, jangan ragu untuk menghubungi dokter. Mereka juga tidak boleh menunda vaksinasi COVID-19, karena jika kanker ada, perlindungan ekstra dari vaksin justru sangat bermanfaat.” — Saran dari sumber medis.
Frekuensi pemeriksaan yang disarankan oleh BreastCancer.org adalah sebulan sekali, pada waktu yang sama setiap bulannya. Bagi wanita yang masih menstruasi, waktu terbaik adalah beberapa hari setelah siklus berakhir, saat payudara tidak bengkak atau nyeri. Setelah menopause, pemeriksaan dapat dilakukan pada tanggal yang tetap, misalnya setiap tanggal 1.
Penting dipahami bahwa tidak semua benjolan bersifat kanker, dan tidak semua kanker payudara ditandai benjolan. Oleh karena itu, pemeriksaan mandiri bukanlah alat diagnostik, melainkan pelengkap skrining medis seperti mamografi. ACS menekankan bahwa mamografi rutin sesuai anjuran dokter tetap menjadi standar emas untuk deteksi dini.
Ke depan, peningkatan literasi kesehatan masyarakat tentang breast self-awareness diharapkan mampu menekan angka keterlambatan diagnosis. Dengan mengenali kondisi normal payudara, setiap individu dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatannya sendiri.



