Studi Finlandia: Operasi Lutut untuk Osteoarthritis Justru Memperburuk Kondisi Pasien
Baca dalam 60 detik
- Penelitian dari Finlandia menunjukkan bahwa operasi pengangkatan sebagian meniskus pada pasien osteoarthritis lutut tidak memberikan manfaat jangka panjang dan bahkan dapat memperburuk kondisi.
- Pasien yang menjalani operasi palsu (sham surgery) melaporkan nyeri lebih ringan dan fungsi lutut lebih baik dalam 10 tahun dibandingkan kelompok yang benar-benar dioperasi.
- Temuan ini menambah bukti bahwa robekan meniskus pada lansia seringkali bukan penyebab utama nyeri, sehingga pendekatan non-bedah perlu diutamakan.

Sebuah studi terbaru dari Finlandia yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine mengungkapkan bahwa operasi pengangkatan sebagian tulang rawan meniskus pada lutut — yang selama ini dianggap sebagai solusi untuk osteoarthritis — justru dapat memperburuk kondisi pasien dalam jangka panjang. Penelitian ini membandingkan pasien yang menjalani operasi menisektomi dengan mereka yang hanya menerima prosedur palsu (sham surgery), di mana sayatan dibuat namun tidak ada jaringan yang diangkat.
Hasilnya menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun, kelompok sham surgery mengalami nyeri lutut yang lebih ringan, peningkatan fungsi sendi, dan tingkat osteoarthritis yang lebih rendah dibandingkan kelompok operasi sesungguhnya. Temuan ini menantang asumsi lama bahwa robekan meniskus merupakan sumber utama nyeri pada pasien osteoarthritis, terutama pada usia lanjut.
Menurut peneliti utama, Prof. Teppo L.N. Järvinen dari Universitas Helsinki, “Ada bukti substansial bahwa kita mungkin salah sasaran. Robekan meniskus sering terlihat, tetapi tampaknya bukan penyebab utama nyeri.” Ia menambahkan bahwa robekan meniskus sangat umum pada usia paruh baya ke atas, termasuk pada mereka yang tidak merasakan sakit, sehingga kecil kemungkinan robekan itu sendiri menjadi pemicu nyeri.
Pakar ortopedi dari Cedars-Sinai, Dr. Clint Soppe, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengakui bahwa praktik operasi meniskus masih lazim dilakukan meski bukti ilmiah meragukan manfaatnya. Ia menekankan pentingnya memberikan waktu bagi lutut untuk pulih secara alami, serta menggunakan terapi non-invasif seperti obat antiinflamasi, fisioterapi, kompres es, dan injeksi kortison atau asam hialuronat. “Bersepeda sering kali membantu, begitu pula perawatan injeksi seperti PRP,” ujarnya.
Dr. Soppe sendiri masih melakukan menisektomi, tetapi hanya pada kasus spesifik di mana robekan meniskus bergeser dan berpotensi menyebabkan masalah lain, serta setelah semua metode konservatif gagal. Ia juga menyarankan bahwa pada osteoarthritis yang sudah parah, penggantian lutut total mungkin menjadi opsi yang lebih masuk akal.
Sementara itu, Paul Arciero dari Skidmore College mencatat bahwa operasi perbaikan meniskus masih diperlukan pada cedera akut dan traumatis, namun untuk sebagian besar robekan rutin, bukti menunjukkan bahwa pengobatan alternatif lebih efektif dalam jangka panjang.
Menariknya, Dr. Soppe juga menyoroti bahwa prosedur sham surgery dalam studi ini sebenarnya melibatkan lavage sendi — pembilasan cairan ke dalam lutut — yang secara tidak sengaja dapat membuang mediator nyeri seperti sitokin dan interleukin. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa kelompok sham surgery merasakan perbaikan. “Itu bukan operasi palsu murni,” katanya, “karena mereka mungkin tetap mendapatkan efek analgesik.”
Studi ini menegaskan perlunya evaluasi ulang terhadap praktik bedah yang sudah mengakar, terutama ketika bukti ilmiah menunjukkan bahwa pendekatan non-bedah seringkali lebih aman dan sama efektifnya. Para ahli mendorong pasien dan dokter untuk mempertimbangkan terapi konservatif sebagai langkah pertama sebelum memutuskan operasi.



