Berhenti Merokok Terkait Penurunan Risiko Demensia hingga 16%, Studi Jangka Panjang Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap lebih dari 32.000 partisipan menunjukkan bahwa mantan perokok memiliki risiko demensia 16% lebih rendah dibandingkan perokok aktif.
- Manfaat kognitif dari berhenti merokok semakin besar seiring waktu, mendekati risiko non-perokok setelah sekitar tujuh tahun bebas rokok.
- Kenaikan berat badan berlebih pasca-berhenti merokok dapat mengurangi manfaat perlindungan terhadap demensia, sehingga pengelolaan berat badan menjadi krusial.

Sebuah studi longitudinal yang dipublikasikan di jurnal Neurology mengungkapkan bahwa berhenti merokok tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan jantung dan paru-paru, tetapi juga secara signifikan menurunkan risiko demensia. Penelitian yang melibatkan lebih dari 32.000 orang dewasa Amerika Serikat berusia 50 tahun ke atas ini menemukan bahwa mereka yang berhenti merokok memiliki risiko demensia 16% lebih rendah dibandingkan dengan perokok aktif.
Data yang dianalisis berasal dari Health and Retirement Study, dengan periode pemantauan antara 1995 hingga 2020. Partisipan diwawancarai setiap dua tahun mengenai kebiasaan merokok, berat badan, gaya hidup, dan riwayat kesehatan. Selama masa studi, hampir 6.000 partisipan didiagnosis mengalami demensia. Tim peneliti dari Zhejiang University School of Medicine, dipimpin oleh Hui Chen, PhD, mengelompokkan partisipan ke dalam tiga kategori: perokok aktif, mantan perokok, dan bukan perokok.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penurunan risiko demensia semakin nyata seiring bertambahnya waktu sejak berhenti merokok. Setelah sekitar tujuh tahun bebas rokok, risiko demensia pada mantan perokok mendekati level yang sama dengan mereka yang tidak pernah merokok. "Manfaatnya tampak lebih kuat dengan waktu yang lebih lama sejak berhenti," ujar Chen. Ia menambahkan bahwa pesan praktis dari studi ini adalah berhenti merokok, tetap aktif secara fisik, makan dengan baik, serta mengelola kesehatan kardiovaskular dan metabolik.
- 32.802 partisipan tanpa demensia di awal studi, dipantau hingga 25 tahun.
- Risiko demensia turun 16% pada mereka yang berhenti merokok selama studi.
- Manfaat optimal terlihat setelah 7 tahun bebas rokok.
- Kenaikan berat badan >22 pon (sekitar 10 kg) pasca-berhenti menghilangkan manfaat kognitif.
Studi ini juga menyoroti peran kenaikan berat badan setelah berhenti merokok. Partisipan yang hanya mengalami sedikit atau tanpa kenaikan berat badan memperoleh manfaat kognitif terbesar. Sementara itu, mereka yang berat badannya naik lebih dari 22 pon tidak menunjukkan penurunan risiko demensia yang signifikan. "Beberapa kenaikan berat badan setelah berhenti adalah hal biasa dan seharusnya tidak menghalangi upaya berhenti merokok. Namun, mencegah kenaikan berat badan berlebih dapat membantu mempertahankan manfaat jangka panjang bagi kesehatan otak," jelas Chen.
Dung Trinh, MD, internis dari MemorialCare Medical Group, menekankan bahwa temuan ini memperkuat pentingnya berhenti merokok untuk kesehatan otak. Ia mencatat bahwa manfaatnya tidak seragam; mereka yang berhenti dan menjaga berat badan tetap stabil cenderung mempertahankan perlindungan terhadap demensia. "Pesan praktisnya jelas: berhenti merokok, tetap berhenti, dan padukan dengan pengelolaan berat badan serta metabolisme yang sehat," kata Trinh.
Anoop Singh, MD, psikiater dari Mindpath Health, menambahkan bahwa studi ini memberikan pesan penuh harapan. "Yang menonjol adalah pesan bahwa berhenti merokok tidak hanya bermanfaat bagi jantung dan paru-paru, tetapi juga kesehatan otak jangka panjang." Singh mengingatkan bahwa kekhawatiran akan kenaikan berat badan tidak boleh menghalangi seseorang untuk berhenti merokok. "Beberapa kenaikan berat badan bisa terjadi dan tidak boleh dianggap sebagai kegagalan. Tujuannya adalah menggabungkan penghentian merokok dengan kebiasaan stabil: gerakan teratur, tidur cukup, manajemen stres, makanan seimbang, dan dukungan medis atau perilaku yang tepat."
Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa berhenti merokok adalah langkah penting untuk menjaga fungsi kognitif di usia lanjut. Dengan pengelolaan berat badan yang bijak, manfaat perlindungan terhadap demensia dapat dioptimalkan. Temuan ini memberikan dorongan kuat bagi perokok untuk segera menghentikan kebiasaan tersebut, sembari tetap memperhatikan pola hidup sehat secara menyeluruh.



