Danantara Ubah Wajah Pengelolaan BUMN: Dari Silo Menuju Holding Terintegrasi
Baca dalam 60 detik
- Pembentukan Danantara sebagai sovereign wealth fund berbasis BUMN mengakhiri era pengelolaan perusahaan negara yang terfragmentasi dan saling lepas.
- Dengan struktur holding, laba BUMN seperti BRI dan PLN kini dapat dialokasikan untuk menyehatkan perusahaan lain yang bermasalah, sebuah mekanisme yang sebelumnya tidak dimungkinkan.
- Transformasi ini diyakini mampu mencegah kebangkrutan BUMN strategis seperti PT INTI dan Krakatau Steel, sekaligus mempercepat pembangunan nasional.

Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Dony Oskaria, mengungkapkan perubahan fundamental dalam tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pasca hadirnya Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) Indonesia. Dalam paparannya di Jogja Financial Festival, Sabtu (23/5/2026), Dony menjelaskan bahwa model pengelolaan sebelumnya yang bersifat terpisah-pisah kini bertransformasi menjadi satu kesatuan holding company.
Menurut Dony, selama ini Kementerian BUMN sejatinya hanya memegang kuasa kelola, bukan sebagai pemilik saham. Akibatnya, setiap BUMN berjalan sendiri-sendiri tanpa mekanisme solidaritas keuangan. "Ketika satu BUMN mengalami kesulitan, tidak ada cara untuk mengalirkan laba dari BUMN lain untuk menyelamatkannya," ujar Dony. Ia mencontohkan laba PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang tidak bisa digunakan untuk membantu perusahaan pelat merah lainnya.
Dony menyoroti sejumlah BUMN ikonik yang kini terancam gulung tikar akibat ketiadaan mekanisme bantuan lintas perusahaan. PT INTI (Industri Telekomunikasi Indonesia) di Bandung, misalnya, disebut akan ditutup jika tidak ada intervensi. Jakarta Lloyd dan Krakatau Steel juga masuk dalam daftar perusahaan yang membutuhkan penyehatan segera. "Dulu kita kenal mereka sangat besar, tapi karena tidak ada integrasi, kita sulit melakukan perbaikan," kata Dony.
Kehadiran Danantara mengubah lanskap tersebut. Dengan menjadikan seluruh BUMN sebagai bagian dari satu holding, proses penyehatan menjadi lebih efisien. Laba perusahaan yang sehat dapat dialokasikan untuk menambal kerugian atau membiayai restrukturisasi BUMN lain yang sedang terpuruk. Dony menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan praktik negara maju yang memiliki SWF untuk mempercepat pembangunan. "Danantara mempermudah kita melakukan penyehatan perusahaan-perusahaan kita," pungkasnya.
Transformasi ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan BUMN yang bermasalah, tetapi juga mendorong efisiensi dan sinergi antar perusahaan negara. Ke depan, Danantara akan berperan sebagai katalis pertumbuhan, bukan sekadar pengelola aset pasif. Dengan struktur baru ini, BUMN Indonesia diyakini mampu bersaing di tingkat global dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.



