PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS: Langkah Besar untuk Diagnosis dan Perawatan yang Lebih Akurat
Baca dalam 60 detik
- Global Name Change Consortium mengumumkan perubahan nama PCOS menjadi PMOS untuk menekankan aspek metabolik dan endokrin, bukan sekadar keberadaan kista ovarium.
- Proses perubahan nama memakan waktu 14 tahun dengan melibatkan konsultasi multidisiplin dan survei terhadap lebih dari 14.000 pasien, menandai tonggak penting dalam penanganan kondisi ini.
- Dengan nama baru, diharapkan diagnosis lebih dini dan perawatan personal dapat ditingkatkan, mengurangi risiko komplikasi kardiometabolik jangka panjang seperti diabetes dan penyakit jantung.

Pada 12 Mei 2026, konsorsium pakar internasional yang dikenal sebagai Global Name Change Consortium secara resmi mengumumkan perubahan nama polycystic ovary syndrome (PCOS) menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS). Keputusan ini dipublikasikan melalui sebuah makalah kebijakan kesehatan di The Lancet, menandai pergeseran paradigma dalam memahami kondisi yang selama ini sering disalahartikan.
Selama ini, diagnosis PCOS bertumpu pada keberadaan kista berisi cairan di ovarium, disertai siklus haid tidak teratur dan pertumbuhan rambut berlebih akibat ketidakseimbangan hormon. Namun, para ahli menilai pendekatan tersebut terlalu sempit dan tidak mencerminkan kompleksitas kondisi yang sebenarnya. Helena Teede, Direktur Monash Centre for Health Research & Implementation di Australia, menegaskan bahwa penelitian terbaru menunjukkan tidak ada peningkatan kista abnormal pada ovarium, dan banyak fitur kondisi yang selama ini terabaikan.
Proses perubahan nama ini memakan waktu 14 tahun, melibatkan konsultasi multidisiplin dan survei terhadap 14.360 partisipan yang telah didiagnosis. Nama baru PMOS akan diadopsi secara global dalam masa transisi tiga tahun, dengan target selesai pada 2028. Perubahan ini tidak hanya bersifat kosmetik; ia bertujuan menggeser fokus dari sekadar masalah reproduksi menjadi gangguan sistemik yang memengaruhi metabolisme, hormon, dan kesehatan secara keseluruhan.
Sameena Rahman, seorang spesialis obstetri dan ginekologi yang tidak terlibat dalam panel perubahan nama, menyambut baik langkah ini. Menurutnya, nama lama PCOS menyesatkan karena berfokus pada kista ovarium yang tidak selalu ada pada setiap pasien dan bukan akar penyebab kondisi. Istilah baru PMOS lebih mencerminkan kondisi seluruh tubuh yang didorong oleh resistensi insulin, ketidakseimbangan hormon, dan peradangan. Rahman menekankan bahwa penekanan pada aspek metabolik sangat penting karena kondisi ini meningkatkan risiko komplikasi kardiometabolik seperti resistensi insulin, prediabetes, diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, dan penyakit kardiovaskular.
βNama yang diperbarui lebih baik mencerminkan cakupan sebenarnya dari sindrom ini sebagai kondisi seluruh tubuh yang didorong oleh resistensi insulin, ketidakseimbangan hormon, dan peradangan. Ini juga membantu menghilangkan stigma diagnosis dan menggeser percakapan melampaui kesehatan reproduksi saja.β β Sameena Rahman, MD
Para ahli berharap perubahan nama ini akan mengurangi diagnosis yang tertunda. Data historis menunjukkan banyak pasien baru terdiagnosis saat mencari pengobatan kesuburan, karena kompleksitas gejala sering menyebabkan misdiagnosis atau diagnosis yang kontradiktif. Teede menyebut keterlambatan diagnosis dan kurangnya kesadaran sebagai hal yang memilukan. Dengan nama baru, diharapkan klinisi dan pasien dapat melihat kondisi ini sebagai masalah metabolik dan inflamasi seumur hidup, bukan sekadar masalah ginekologi. Hal ini memungkinkan intervensi lebih dini dan fokus yang lebih kuat pada pencegahan komplikasi jangka panjang.
Perubahan nama PCOS menjadi PMOS merupakan momen bersejarah yang diharapkan dapat mendorong kemajuan dalam praktik klinis dan penelitian secara global. Dengan pemahaman yang lebih akurat tentang kondisi ini, pasien dapat memperoleh perawatan yang lebih personal dan tepat sasaran, mengurangi beban penyakit yang selama ini kurang mendapat perhatian.



