Mengapa Diagnosis ADHD pada Perempuan Sering Terlambat? Psikolog Ungkap Faktor Masking dan Bias Gender
Baca dalam 60 detik
- Perempuan dengan ADHD rata-rata menerima diagnosis lima tahun lebih lambat dibandingkan laki-laki, sering kali setelah salah didiagnosis dengan gangguan kecemasan atau depresi.
- Fenomena masking—menyembunyikan gejala agar sesuai norma sosial—menjadi penghalang utama, diperparah oleh ekspektasi budaya yang membebani perempuan.
- Perimenopause dan meningkatnya tuntutan hidup membuat masking semakin sulit, mendorong banyak perempuan mencari diagnosis di usia dewasa.

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) cenderung menerima diagnosis lebih lambat—rata-rata lima tahun setelah rekan pria mereka. Banyak di antaranya justru salah didiagnosis dengan kondisi seperti gangguan kecemasan sebelum akhirnya teridentifikasi secara akurat. Fenomena ini menyoroti celah besar dalam sistem diagnostik yang selama ini didasarkan pada studi terhadap anak laki-laki kulit putih.
Menurut Prof. Davida Hartman, psikolog anak dan remaja yang juga menjabat sebagai Direktur Klinis di The Adult Autism and ADHD Practice, akar masalahnya terletak pada model medis yang sempit. "ADHD ditempatkan dalam kerangka penyakit yang dikembangkan oleh pria kulit putih paruh baya. DSM dan ICD-11 didasarkan pada anak laki-laki cisgender kulit putih, sehingga hanya menangkap satu cara menjadi ADHD," jelasnya. Akibatnya, banyak perempuan dan individu non-biner tidak terwakili dalam kriteria diagnostik.
Salah satu faktor utama keterlambatan diagnosis adalah masking—perilaku menyembunyikan gejala agar terlihat "normal". Hartman menjelaskan bahwa masking sering dilakukan secara tidak sadar, terutama oleh perempuan yang sejak kecil diajarkan untuk bersikap tenang dan menyenangkan. "Mereka belajar menekan impuls, berpura-pura fokus, dan mengelola perasaan orang lain. Ini melelahkan secara mental dan memicu rasa malu," ujarnya. Penelitian awal menunjukkan masking berkontribusi signifikan terhadap penurunan kesehatan mental.
"Jika Anda berteman dengan seseorang dengan ADHD, jangan marah karena mereka lupa ulang tahun atau terlambat membalas pesan. Itu bukan tanda tidak peduli, melainkan masalah persepsi waktu dan fungsi eksekutif. Terimalah mereka apa adanya." — Prof. Davida Hartman
Perimenopause menjadi titik balik bagi banyak perempuan. Penurunan estrogen memperburuk gejala ADHD seperti pelupa dan disfungsi eksekutif, membuat masking semakin sulit dipertahankan. "Ketika tuntutan hidup meningkat dan dukungan hormonal berkurang, banyak perempuan mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka," kata Hartman. Ia menekankan pentingnya skrining neurodivergence di layanan kesehatan mental agar ADHD tidak terlewatkan.
Hartman mengusulkan pergeseran perspektif: ADHD bukanlah defisit perhatian, melainkan variasi cara memperhatikan. "Otak ADHD bisa hiperfokus pada hal yang menarik, tetapi sulit berkonsentrasi pada tugas membosankan. Ini bukan kelainan, melainkan perbedaan yang juga membawa kekuatan seperti kreativitas dan kemampuan multitasking," tegasnya. Ia mendorong perempuan untuk tidak terjebak pada ekspektasi sosial yang berlebihan, seperti harus sempurna dalam peran domestik dan profesional.
Ke depan, peningkatan kesadaran melalui media sosial dan komunitas daring diharapkan mempercepat diagnosis. Namun, Hartman mengingatkan bahwa identifikasi formal hanyalah langkah awal. "Yang terpenting adalah memahami diri sendiri dan memberi izin untuk menjadi autentik. Itulah kunci menjalani hidup yang lebih bahagia," pungkasnya.



