William Shatner Ungkap Keraguan dan Guncangan Emosional Saat Misi Luar Angkasa Blue Origin
Baca dalam 60 detik
- Aktor legendaris William Shatner hampir membatalkan penerbangan ke luar angkasa setelah melihat kebocoran hidrogen dan mendengar istilah 'anomali' dari pusat kendali.
- Setelah mendarat, Shatner menangis histeris bukan karena kegembiraan, melainkan kesedihan mendalam atas kerusakan lingkungan Bumi yang ia saksikan dari orbit.
- Shatner kini meyakini eksplorasi antariksa membutuhkan jiwa manusia, bukan sekadar robot, untuk merasakan keajaiban penemuan.

William Shatner, aktor yang identik dengan Kapten Kirk dalam serial Star Trek, mengaku nyaris mundur dari misi luar angkasa bersejarahnya pada Oktober 2021. Dalam sebuah diskusi dengan astrofisikawan Neil deGrasse Tyson di Saban Theatre, Beverly Hills, Shatner menceritakan detik-detik menegangkan saat ia menaiki roket New Shepard NS-18 milik Blue Origin milik Jeff Bezos.
Saat menaiki gantry setinggi 11 lantai menuju kapsul, Shatner melihat uap keluar dari salah satu ventilasi dan diberi tahu bahwa itu adalah hidrogen. Rasa cemas semakin memuncak ketika pusat kendali melaporkan adanya "anomali" sesaat sebelum hitungan mundur. "Saya berpikir, 'Apa-apaan itu anomali?'" kenang Shatner, seraya menambahkan bahwa ia sempat tergoda untuk turun saat kru menawarkan kesempatan keluar. Namun, identitasnya sebagai Kapten Kirk membuatnya bertahan: "Saya tidak bisa, saya Kapten Kirk."
Setelah melewati gaya gravitasi yang ia ibaratkan seperti "gajah duduk di dada," Shatner akhirnya melayang bebas. Namun, pengalaman paling mengharukan justru terjadi saat kembali ke Bumi. Begitu keluar dari kapsul, ia menangis tersedu-sedu di depan kamera internasional. "Saya menangis tak terkendali, dan saya tidak tahu kenapa. Akhirnya saya sadar bahwa saya sedang berduka," ujarnya.
Kesedihan itu, menurut Shatner, muncul karena ia teringat akan kerusakan lingkungan yang ia saksikan saat syuting acara Voice of the Planet. Sampah berserakan di Himalaya, mikroplastik mengalir dalam darah manusia—semua itu membebaninya saat melihat Bumi dari kejauhan. "Saya berduka untuk Bumi dan keindahan yang kita lihat di sekitar kita," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Shatner juga merevisi pandangannya soal penggunaan robot vs manusia dalam eksplorasi antariksa. Sebelumnya ia mempertanyakan mengapa manusia yang rentan dikirim ke luar angkasa, namun kini ia berkesimpulan bahwa hanya manusia yang bisa merasakan pengalaman eksplorasi secara utuh. "Robot dingin mungkin bisa mengirim fakta lebih baik, tapi hanya manusia yang bisa mengalami keajaiban penemuan," tegasnya. Tyson pun menimpali, "Tidak ada yang pernah mengadakan parade untuk robot, dan tidak ada sekolah yang dinamai menurut robot."
"Hanya manusia yang bisa mengalami keajaiban penemuan. Robot dingin mungkin bisa mengirim fakta lebih baik, tapi itu bukan pengalaman yang sama." — William Shatner
Pernyataan Shatner ini menambah dimensi baru dalam perdebatan tentang peran manusia di era eksplorasi antariksa komersial. Meski misi Blue Origin sukses, pengalaman emosional sang aktor justru mengingatkan bahwa perjalanan ke luar angkasa tidak hanya tentang pencapaian teknologi, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap planet asal kita.



