Andy Dick Buka Suara soal Pengalaman 'Mati' Akibat Overdosis: Tak Ada Terowongan, Hanya Kekosongan
Baca dalam 60 detik
- Komidian Andy Dick mengaku tak melihat 'terowongan cahaya' saat overdosis fentanyl pada Desember 2025, melainkan hanya kekosongan total.
- Ia disadarkan dengan Narcan setelah jantung berhenti, namun pikiran pertamanya justru menanyakan vodka—menunjukkan pergulatan adiksi yang dalam.
- Kini menjalani hidup sadar di komunitas bebas zat, Dick mengaku tidak takut kambuh atau mati, meski mengakui kenikmatan masa lalu tak sebanding dengan kebersamaan keluarga.

Komidian kontroversial Andy Dick (60) mengungkap pengalaman 'kematian' yang dialaminya usai overdosis fentanyl pada Desember 2025 lalu. Dalam wawancara dengan Rolling Stone, ia mengaku tak melihat 'terowongan cahaya' yang kerap digambarkan dalam pengalaman mendekati kematian. "Tidak ada apa pun. Saya benar-benar mati karena tidak ada aktivitas apa pun, dan mereka harus menyuntikkan Narcan," ujarnya.
Insiden bermula ketika Dick menerima pipa berisi zat dari sekelompok orang asing di jalan Los Angeles. Ia langsung ambruk di trotoar dan tak sadarkan diri. Petugas medis segera memberikan Narcan—obat penawar overdosis opioid—yang berhasil memulihkan detak jantungnya. Namun, saat tersadar, pikiran pertamanya justru mengejutkan: "Di mana vodkanya?" Dick mengakui bahwa respons tersebut mencerminkan betapa dalamnya jeratan adiksi yang ia hadapi.
Peristiwa itu menjadi titik balik. Dick akhirnya menjalani rehabilitasi dan kini tinggal di komunitas hidup sadar (sober living) yang melarang penggunaan zat terlarang. Saat wawancara, ia mengaku telah 147 hari bersih dari narkoba. Meski demikian, ia mengaku tidak takut kambuh atau bahkan mati. "Apa pun yang berhubungan dengan saya, termasuk kematian, tidak membuat saya takut. Saya tidak peduli jika saya kambuh lagi," katanya dengan nada datar.
Dalam kesempatan terpisah di podcast Howie Mandel Does Stuff, Dick mengungkap dampak jangka panjang overdosis tersebut. Ia mengalami gangguan ingatan dan hasil pemindaian otak menunjukkan adanya 'lubang'—kemungkinan lesi—sebanyak lima hingga tujuh titik. "Dokter bilang ada lubang di otak saya. Saya tidak ingat persis istilah medisnya, tapi itu nyata," jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa jantungnya sempat berhenti dan tubuhnya membiru sebelum ditangani.
Meski masa lalu kelamnya penuh dengan penyalahgunaan zat, Dick kini mulai merasakan manfaat hidup bersih. "Saya ingin hidup ini menyenangkan. Dulu saya bersenang-senang dengan ganja, alkohol, dan narkoba lain. Tapi jika dijumlah, semua kesenangan itu tidak sebanding dengan kepuasan saat ini—bisa sadar dan melihat cucu bermain," tuturnya.
Pernyataan Dick menyoroti kompleksitas pemulihan adiksi: kesadaran akan bahaya tidak selalu diikuti ketakutan, dan motivasi untuk berubah sering datang dari hal-hal sederhana seperti kebersamaan keluarga. Meski skeptis terhadap kemungkinan kambuh, ia mengakui bahwa hidup bersih memberikan kepuasan yang lebih dalam dibandingkan euforia sesaat narkoba.



