Oumar Solet Buka Suara soal Rumor Inter, Napoli, dan Gaya Bermain Berani di Serie A
Baca dalam 60 detik
- Bek Udinese Oumar Solet mengonfirmasi bahwa Napoli sempat mendekatinya, namun Red Bull Salzburg menolak melepasnya.
- Ia mengakui ketertarikan Inter Milan sebagai bentuk apresiasi, tetapi menegaskan fokusnya saat ini hanya untuk Udinese.
- Solet menyoroti perbedaan pendekatan bermain di Italia yang cenderung defensif, sementara ia justru lebih nyaman membangun serangan dari belakang.

Bek tengah Udinese, Oumar Solet, akhirnya angkat bicara mengenai spekulasi yang menghubungkannya dengan sejumlah klub besar Eropa, termasuk Napoli, Inter Milan, dan Newcastle United. Dalam wawancara eksklusif dengan La Gazzetta dello Sport, pemain berusia 26 tahun itu mengungkapkan alasan di balik kepindahannya ke Serie A pada Januari 2025 sebagai agen bebas, serta pandangannya tentang gaya bermain di Italia.
Solet mengakui bahwa Napoli semata-mata bukanlah tujuan yang mustahil. “Memang benar ada kontak dengan Napoli di masa lalu, tetapi Red Bull Salzburg tidak ingin menjual saya,” ujarnya. Setelah melalui sengketa kontrak, ia akhirnya berhasil hengkang dari Austria dan bergabung dengan Udinese. Di klub asal Friuli tersebut, Solet perlahan membangun reputasi sebagai bek modern yang piawai dalam distribusi bola.
Ketika disinggung mengenai minat Inter Milan yang melihatnya sebagai calon pewaris Alessandro Bastoni, Solet merespons dengan hati-hati. “Senang rasanya dikaitkan dengan klub-klub besar, tapi saya fokus pada Udinese. Saya bahagia di sini, klub percaya pada saya, saya mendapat menit bermain konsisten dan kesempatan untuk berkembang. Itu fundamental,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa Udinese membuatnya merasa seperti di rumah sendiri, tinggal di pusat kota yang tenang sehingga bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaan.
Solet juga memberikan pandangan menarik tentang perbedaan filosofi sepak bola Italia dengan liga lain. “Saya memulai karier sebagai gelandang, lalu pada usia 17 tahun beralih menjadi bek. Karakteristik bermain saya sudah terbentuk sejak lama,” jelasnya. “Di Italia, fokus defensif sangat kental dan insting pertama seringkali menghindari risiko. Tapi karena saya tumbuh sebagai gelandang, bermain dengan bola di kaki adalah hal alami. Saya tidak terlalu khawatir mengambil risiko dengan umpan-umpan saya, saya hanya mencoba melakukan yang terbaik. Mungkin di Italia kadang kurang keberanian untuk maju ke depan.”
Pernyataan ini menyoroti perbedaan pendekatan taktis antara Serie A yang cenderung pragmatis dengan gaya sepak bola progresif yang diusung Solet. Ia menilai Serie A saat ini termasuk tiga liga terbaik dunia bersama Premier League, LaLiga, dan Ligue 1. “Levelnya benar-benar meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kompetisinya sangat taktis,” tambahnya.
Solet juga belum menentukan pilihan tim nasional antara Prancis dan Pantai Gading. “Ini keputusan penting dan saya masih memikirkannya. Saya ingin membuat pilihan yang tepat untuk masa depan saya,” pungkasnya. Dengan performa impresifnya di Udinese, bukan tidak mungkin ia akan segera menjadi incaran klub-klub papan atas Eropa dalam waktu dekat.
