Ketika ADHD dan Gangguan Makan Bertemu: Kisah Perjuangan Melawan ARFID
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan didiagnosis ADHD di usia 20-an dan baru menyadari bahwa keengganan ekstrem terhadap makanan tertentu selama ini terkait dengan gangguan makan ARFID.
- ARFID berbeda dari anoreksia karena tidak terkait dengan citra tubuh, melainkan dipicu oleh sensitivitas sensorik berlebihan terhadap tekstur, bau, dan penampilan makanan.
- Kurangnya kesadaran publik tentang ARFID membuat banyak penderitanya salah diartikan sebagai pemilih makanan, padahal kondisi ini memerlukan penanganan profesional seperti terapi okupasi.

Seorang wanita yang didiagnosis dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) di usia pertengahan 20-an mengungkapkan bahwa gangguan makan yang dialaminya selama bertahun-tahun ternyata berkaitan erat dengan kondisi neurodivergen tersebut. Ia mengalami keengganan ekstrem terhadap berbagai makanan sejak kecil, mulai dari tomat, pisang, hingga daging mentah, yang kemudian diketahui sebagai bagian dari avoidant restrictive food intake disorder (ARFID).
ARFID adalah gangguan makan yang sering dikaitkan dengan ADHD dan autisme. Berbeda dengan anoreksia, penderita ARFID tidak memiliki kekhawatiran terhadap berat badan atau bentuk tubuh. Sebaliknya, mereka mengalami reaksi sensorik yang sangat kuat terhadap makanan—seperti tekstur, bau, atau penampilan—yang memicu kecemasan hingga menyebabkan pembatasan asupan makanan secara signifikan. Dalam kasus ini, wanita tersebut mengaku sering kali melewatkan makan karena khawatir terhadap sensasi yang ditimbulkan oleh makanan tertentu.
Setelah berkonsultasi dengan terapis, ia menyadari bahwa sensitivitas sensoriknya tidak terbatas pada makanan, melainkan juga terhadap cahaya, suara keras, ruang ramai, dan tekstur pakaian. Terapis yang juga seorang wanita neurodivergen merekomendasikan terapi okupasi untuk membantu mengelola sensitivitas tersebut. Langkah ini dinilai cukup efektif, meskipun perjalanan pemulihan masih panjang.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman publik tentang ARFID. Banyak orang menganggap penderitanya hanya pemilih makanan atau sulit diatur. Padahal, kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sosial dan menyebabkan penurunan berat badan yang tidak diinginkan. Wanita tersebut menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam menangani ADHD, tidak hanya terfokus pada masalah konsentrasi dan hiperaktivitas, tetapi juga pada komorbiditas seperti ARFID.
“Kami perlu mengadakan percakapan tentang ADHD yang luas dan bervariasi. Kondisi ini tidak sama untuk semua orang, dan akan membantu banyak orang jika kita melihatnya secara holistik serta menangani berbagai bagian dari gangguan ini,” ujarnya.
Ia berharap kesadaran yang lebih besar tentang hubungan antara ADHD dan ARFID dapat mendorong lebih banyak orang untuk mencari bantuan profesional sebelum gangguan makan tersebut menimbulkan dampak jangka panjang pada kesehatan. Menurutnya, masih banyak stigma yang melekat pada gangguan makan, padahal kondisi ini tidak jarang terjadi. Dengan terbukanya diskusi, diharapkan penderita dapat memperoleh dukungan yang tepat dan tidak lagi merasa sendirian dalam perjuangan mereka.



