Fadly Alberto Mengaku Sesal: Aksi Tendangan Kungfu di EPA U-20 Coreng Nama Baik Timnas Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Pengakuan Eksplisit Pemain Muda: Fadly secara terbuka menyatakan bahwa aksi brutalnya menendang punggung lawan di ajang Elite Pro Academy U-20 telah menodai reputasi Timnas Indonesia di mata publik.
- Ancaman Eksklusi dari Skuad U-20: Pelatih Nova Arianto sebelumnya telah memasukkan namanya dalam rencana, namun insiden ini berpotensi mengakhiri panggilannya ke timnas kelompok umur.
- Sanksi Komdis Mengintai Karier: Pemain berusia 17 tahun yang pernah tampil di Piala Dunia U-17 2025 itu menyatakan kesiapan menerima hukuman apapun dan berjanji tidak mengulangi perbuatan serupa.

Fadly Alberto, pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC yang juga langganan tim nasional Indonesia kelompok umur, secara terbuka mengakui bahwa aksi tendangan kungfu yang dilakukannya terhadap pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis, telah mencoreng nama baik Timnas Indonesia. Insiden terjadi dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 pada Minggu (19/4). Dalam pernyataan permintaan maafnya, pemain berusia 17 tahun itu tidak hanya memohon maaf kepada timnas, tetapi juga kepada masyarakat Indonesia atas kegaduhan yang ditimbulkan oleh tindakannya.
Fadly sejatinya merupakan sosok yang akrab dengan skuad timnas kelompok umur. Ia telah memperkuat timnas sejak kategori usia 16 tahun dan masuk dalam rencana pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto, untuk periode mendatang. Bahkan, ia pernah merasakan pengalaman berharga tampil di Piala Dunia U-17 2025. Namun, aksi tidak terpuji yang dipicu oleh emosi di lapangan itu kini mengancam posisinya di timnas. Selain eksklusi dari skuad, Komite Disiplin (Komdis) PSSI juga dikabarkan akan menjatuhkan sanksi yang dapat membahayakan karier profesionalnya ke depan. Fadly sendiri menyatakan siap menerima sanksi setimpal atas perbuatannya.
Dari perspektif psikologi olahraga dan pembinaan pemain muda, insiden ini menyoroti kerentanan emosional atlet remaja yang berada di bawah tekanan tinggi. Fadly, yang telah merasakan panggung dunia (Piala Dunia U-17), seharusnya menjadi panutan bagi pemain seusianya. Namun, kegagalan mengendalikan emosi di lapangan justru mengubahnya dari aset nasional menjadi beban reputasi. Ini juga menjadi ujian bagi sistem pembinaan karakter di akademi dan klub-klub Indonesia: seberapa jauh penekanan pada aspek mental dan disiplin dibandingkan dengan kemampuan teknis semata. Nova Arianto, sebagai pelatih timnas U-20, kini dihadapkan pada keputusan sulit: apakah memberikan kesempatan kedua bagi pemain muda yang menyesal, atau menegakkan standar disiplin dengan mengorbankan potensi individu.
"Untuk Timnas Indonesia saya meminta maaf karena perbuatan saya mencoreng nama baik Timnas Indonesia. Kepada masyarakat Indonesia saya meminta maaf atas kegaduhan akibat tindakan saya." — Fadly Alberto
Ke depan, kasus Fadly Alberto akan menjadi preseden penting bagi penegakan disiplin di kompetisi usia muda Indonesia. Jika Komdis PSSI menjatuhkan sanksi berat, itu akan mengirim sinyal bahwa kekerasan dalam bentuk apapun—sekecil apapun usianya—tidak akan ditoleransi. Sebaliknya, jika sanksi terlalu ringan, dikhawatirkan akan memicu aksi serupa di masa depan karena pemain merasa "lolos" setelah sekadar meminta maaf. Bagi Fadly sendiri, jalan panjang masih terbuka. Ia baru berusia 17 tahun, dan sejarah sepak bola penuh dengan pemain yang melakukan kesalahan di masa muda lalu bangkit menjadi pribadi yang lebih dewasa. Namun, pintu timnas mungkin telah tertutup untuk sementara—dan kunci untuk membukanya kembali bukan lagi terletak pada kemampuannya menendang bola, tetapi pada kemampuannya menunjukkan perubahan karakter yang nyata.



