Alasan Eksekutif Indeed Menolak Keras Adanya 'Leaderboard' Penggunaan Token AI bagi Karyawan
Baca dalam 60 detik
- CIO Indeed, Anthony Moisant, menolak keras penggunaan leaderboard konsumsi token AI bagi karyawannya karena dianggap dapat menciptakan insentif kerja yang salah (Tokenmaxxing).
- Indeed lebih memilih berfokus pada metrik yang berorientasi hasil nyata (outcomes), seperti seberapa cepat produk dirilis dan seberapa baik kualitas pencocokan pekerjaan (job matching) yang dihasilkan.
- Meskipun biaya operasional AI Indeed diproyeksikan melonjak empat kali lipat dari tahun sebelumnya, perusahaan tetap memberikan lampu hijau untuk pengeluaran di area dengan ROI tinggi ketimbang membatasi anggaran yang bisa menghambat inovasi.

Perusahaan portal lowongan kerja raksasa, Indeed, secara tegas menolak tren penerapan leaderboard (papan peringkat) untuk melacak konsumsi token Kecerdasan Buatan (AI) di kalangan karyawannya. Chief Information Officer (CIO) Indeed, Anthony Moisant, menilai bahwa mengukur produktivitas murni dari jumlah token AI yang digunakan justru dapat memicu budaya kerja yang salah sasaran.
Fakta Pendekatan AI di Indeed:
- Pelacakan di Latar Belakang: Indeed tetap melacak penggunaan token AI, tetapi data tersebut hanya digunakan di latar belakang untuk analisis efisiensi, bukan untuk diperlombakan antar karyawan.
- Menolak "Tokenmaxxing": Berbeda dengan dorongan di beberapa perusahaan teknologi besar (Big Tech) yang mendorong karyawan untuk menggunakan token sebanyak mungkin, Indeed menghindari tren ini.
- Fokus pada Hasil (Outcomes): Perusahaan lebih memprioritaskan seberapa cepat tim dapat meluncurkan produk dan bagaimana hal itu berdampak pada pencocokan pekerjaan (job matching) bagi pelanggan.
Moisant menjelaskan bahwa jika penggunaan token AI dijadikan metrik utama untuk insentif, karyawan akan secara otomatis mengejar angka tersebut, yang sering kali berujung pada hasil kerja yang tidak substansial. Ini adalah pelajaran yang pernah dialami Indeed ketika mereka menggunakan persentase penulisan kode (code written) sebagai metrik produktivitas, yang ternyata tidak membawa perubahan nyata pada efisiensi output.
"Aktivitas tidak bernilai bagi bisnis kami, dan tidak bernilai bagi pasar kerja. Hasil akhir (outcomes) lah yang bernilai—pencocokan yang lebih baik, pencocokan yang lebih cepat. Itulah yang kami tuju," tegas Anthony Moisant.
Mengelola Lonjakan Anggaran AI
Kebutuhan operasional AI yang tinggi juga membawa dampak pada lonjakan biaya. Meskipun menolak papan peringkat, Indeed tetap mengawasi investasi teknologi mereka dengan saksama. Berikut adalah gambaran pendekatan pengelolaan biaya AI di perusahaan tersebut:
| Aspek Strategi AI | Keterangan / Keputusan Manajemen |
|---|---|
| Proyeksi Anggaran | Tagihan biaya AI Indeed diproyeksikan melonjak hingga 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan tahun 2025, yang sebagian besar dialokasikan untuk penggunaan Riset & Pengembangan (R&D). |
| Skala Prioritas | Fokus utama pengeluaran diberikan pada metrik "Time-to-value", yaitu durasi waktu yang dibutuhkan dari sebuah ide hingga produk tersebut sampai ke tangan pelanggan. |
| Kebijakan Pemotongan | Perusahaan menghindari orientasi pada pemotongan bujet yang buta, karena ditakutkan hal tersebut akan memperlambat tingkat produktivitas dan mematikan potensi inovasi dari tools AI. |
Pada akhirnya, transparansi dan pemahaman mendalam tentang siapa yang menghabiskan anggaran serta apa nilai pengembalian investasi (ROI) yang dihasilkan jauh lebih penting bagi Indeed daripada sekadar memamerkan angka konsumsi token di papan peringkat internal.



