Konten Makan Daging Monyet Viral di Media Sosial, Kenali 3 Risiko Kesehatan yang Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Beredarnya konten orang makan daging monyet di media sosial memicu kecaman dan peringatan keras terkait bahaya penularan patogen mematikan akibat kedekatan biologis primata dengan manusia.
- Risiko kesehatan meliputi infeksi parasit saluran pencernaan yang kerap ditemukan pada feses kera, serta penularan penyakit mematikan dari kontak dengan darah dan cairan tubuh saat mengolah daging tersebut.
- Konsumsi satwa liar seperti monyet tidak hanya membahayakan individu, tetapi berisiko menciptakan penyebaran penyakit lintas spesies yang mengancam kesehatan publik.

Baru-baru ini, media sosial dihebohkan oleh peredaran konten ekstrem yang menampilkan orang mengonsumsi daging monyet. Fenomena ini tidak hanya menuai kecaman keras dari masyarakat luas, tetapi juga memicu peringatan serius dari sudut pandang medis mengenai bahaya kesehatan yang mengintai.
Fakta Kunci Bahaya Konsumsi Daging Monyet:
- Kedekatan Biologis: Sebagai primata non-manusia, monyet memiliki kedekatan biologis yang erat dengan manusia. Hal ini membuat peluang perpindahan patogen (virus, bakteri, parasit) menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan satwa lain.
- Bukan Hewan Konsumsi: Monyet adalah satwa liar yang habitat dan pola makannya tidak terkontrol, sehingga sangat tidak disarankan untuk dijadikan bahan pangan.
- Ancaman Publik: Mengonsumsi primata liar dapat membuka ruang penularan penyakit mematikan lintas spesies yang mengancam kesehatan masyarakat secara luas.
Para ahli kesehatan menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar tentang selera makan yang nyeleneh, melainkan ancaman nyata berupa penyakit zoonotik (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Berikut adalah tiga risiko utama yang mengancam jika nekat mengolah dan memakan daging primata liar:
| Jenis Risiko | Penjelasan Medis & Temuan Lapangan |
|---|---|
| 1. Infeksi Saluran Cerna dan Parasit | Monyet berpotensi besar membawa parasit zoonotik di pencernaannya. Studi pada kera ekor panjang di Baluran (Jawa Timur) dan Aceh menemukan tingkat prevalensi parasit yang tinggi (seperti Oesphagostomum bifurcum dan Trichuris trichiura), yang mudah menular jika daging diproses secara tidak higienis. |
| 2. Penularan Lewat Darah & Cairan Tubuh | Bahaya tidak hanya datang saat daging dikunyah. Proses berburu, memotong, hingga membersihkan daging membuat manusia terpapar langsung dengan darah dan cairan tubuh hewan, yang menurut CDC merupakan titik krisis paparan patogen tingkat tinggi. |
| 3. Ancaman Pandemi Lintas Spesies | Konsumsi hewan liar yang tidak wajar membuka pintu bagi kemunculan wabah penyakit baru yang berpotensi menyebar luas di masyarakat (risiko kesehatan publik). |
"Oleh karena itu, persoalan daging satwa liar bukan hanya tentang konsumsi, tetapi juga proses mengolah daging tersebut. Pengolahan yang tidak higienis membawa patogen yang mengganggu kesehatan," catat peringatan terkait bahaya zoonotik.
Masyarakat sangat diimbau untuk berhenti mempromosikan atau mengonsumsi satwa liar dan beralih mengonsumsi daging dari hewan ternak yang sudah jelas standar kesehatan dan pengawasannya, seperti sapi, ayam, atau kambing.



